Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Jurus Sukses Airnav Meningkatkan Kapasitas Penerbangan

Senin 27 Aug 2018 17:05 WIB

Red: Angga Indrawan

Pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia memantau pergerakan lalu lintas udara pesawat melalui layar radar di menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

Pemandu lalu lintas udara AirNav Indonesia memantau pergerakan lalu lintas udara pesawat melalui layar radar di menara kontrol (Air Traffic Controller/ATC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/8).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pertumbuhan penerbangan yang tinggi memacu Airnav menyempurnakan pelayanan.

Oleh: Erik Purnama Putra/Wartawan Republika

Amiruddin berkali-kali melihat jam tangannya. Dia merasa cukup heran, sudah 15 menit pesawat berada di landasan Bandara Soekarno-Hatta, namun pesawat Garuda Indonesia GA318 rute Jakarta-Surabaya, belum juga take off (lepas landas). Ternyata, pesawat jenis Airbus A330-220 ini masih harus antre untuk bisa terbang. Itu pun masih ada satu pesawat lagi di depan, dan dua pesawat lainnya juga berada di belakang. 

Alhasil, pesawat yang di tiket tertulis terbang pukul 15.25 WIB, ternyata baru bisa lepas landas sekitar pukul 16.00 WIB. Padahal, sambung dia, petugas maskapai juga sudah meminta maaf kepada para penumpang atas keterlambatan pesawat beberapa menit. "Kayaknya di landasan antrean pesawat sampai hampir setengah jam (30 menit)," ujar Amiruddin saat berbincang dengan Republika usai mendarat di Terminal 2 Bandara Juanda, belum lama ini.

Bagi Amir, panggilan akrabnya, pengalaman naik pesawat yang harus terlebih dahulu antre cukup lama di taxi way bukan hal baru. Pegawai negeri sipil (PNS) yang berkantor di Senayan ini, memang rutin bepergian naik pesawat ketika dinas keluar kota. Menurut Amir, ada waktu-waktu tertentu tertentu ketika pesawat antre panjang, karena untuk bisa terbang maka terlebih dahulu menunggu pesawat mendarat. 

Dia juga punya pengalaman pesawat yang sepertinya berputar-putar tidak langsung mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. "Memang ada jam padat sehingga harus seperti itu, penerbangan atau saat mendarat jadi tertunda," ujar Amir yang dibenarkan rekannya, Farid Kusuma. 

Bagi Farid, masalah melesetnya jadwal penerbangan akibat landasan yang sepertinya sudah kelebihan beban tidak menjadi masalah. Menurut dia, paling konsekuensinya jadwal tiba di tujuan menjadi agak sedikit telat. "Yang penting perjalanan aman dan selamat sampai tujuan," ujarnya berpikir positif.

Masalah padatnya penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sepertinya sudah menyita perhatian para penumpang, yang merasakan jadwal lalu lintas yang begitu padat. Republika juga beberapa kali mengalami penerbangan yang tertunda akibat antrean pesawat sebelum bisa terbang. Padahal, untuk menyiasati hal itu, kadang pihak maskapai mempersilakan penumpang lebih awal untuk naik pesawat. 

Namun, tetap saja, pesawat harus bergiliran untuk bisa terbang akibat kapasitas bandara yang terbatas hingga jadwal molor tidak bisa dihindari. Salah satu co pilot Sriwijaya Air, Gary Ilham membenarkan, masalah kepadatan lalu lintas penerbangan juga menjadi bahan pembicaraan di kalangan pilot. Dia mengatakan, salah satu masalah kedapatan Bandara Soekarno-Hatta memang berimplikasi pada ketepatan waktu saat take off maupun landing (mendarat).

Menurut dia, kadang pesawat yang harus mendarat itu tertahan di atas dan berputar-putar dahulu, lantaran menunggu pemberangkatan antrean pesawat di landasan. Gary mengatakan, keputusan pesawat tidak bisa langsung mendarat berdasarkan instruksi dari petugas air traffic controller (ATC) yang selalu mendahulukan pesawat lepas landas. 

"Itu kadang kita muter, misalnya di bawah terlalu ramai kita harus cari jarak 10 mil, padahal idealnya cukup lima sampai enam mil. Diholding oleh menara kontrol. Itu dengan harapan bisa berangkat tiga empat pesawat di bawah," ujar Gary. 

Masalah lain yang dihadapi, menutur Gary, yaitu penataan lalu lintas di Bandara Soekarno-Hatta yang perlu lebih dirapikan lagi. Dia membandingkan dengan Bandara Changi di Singapura yang menetapkan landasan untuk lepas landas dan mendarat yang dipisah. Dia mengakui, keunggulan Bandara Changi adalah memiliki tiga landasan, berbeda dengan Bandara Soekarno-Hatta yang baru dua landasan. 

Berdasarkan pengalamannya, pengaturan lalu lintas pesawat lebih baik dipisahkan antara yang ingin lepas landas dan mendarat. Dengan begitu, diharapkan masalah antrean pesawat bisa dikurangi dan pilot bisa lebih fokus dalam bertugas. Dia mengaku, pernah penerbangannya diminta ditunda beberapa menit untuk menyesuaikan kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. Lagi-lagi, bagi dia, masalah itu tidak lepas dari manajemen lalu lintas penerbangan.

Padahal, kadang pilot yang sudah terbang tiga kali merasa keletihan sehingga harus segere istirahat, namun jam kerjanya jadinya bertambah. "Di kita masih campur, dua landasan itu tidak dipisah, buat mendarat dan lepas landas. Mungkin dengan pembangunan landasan ketiga, kepadatan itu bisa teratasi, tapi tidak tahu kapan selesai," ujar Gary.

Belajar dari Heathrow

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah lalu lintas pesawat saat take off dan landing di Bandara Soekarno-Hatta saat ini mencapai 81 pergerakan per jam. Dengan kata lain, setiap 45 detik. Kepadatan penerbangan tersebut menjadi tanggung jawab Airnav Indonesia, yang bertugas mengatur layanan navigasi penerbangan di bandara seluruh Indonesia. 

Manager Humas Airnav Indonesia Yohannes Sirait menyadari, pertumbuhan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sangat tinggi, sehingga berimbas pada lalu lintas pesawat yang sangat padat. Sebagai solusinya, Airnav mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur penunjang dalam menghadapi dinamika tantangan yang semakin berat, dengan belajar langsung kepada ahlinya.

Sirait mengungkapkan, petugas ATC pada 2014, dikirim untuk mengikuti pelatihan tentang high intensity runway operations (HIRO), dengan instruktur dari National Air Traffic Services (NATS). Perlu diketahui, NATS merupakan operator Bandara Heathrow, London, yang kondisinya mirip dengan Bandara Soekarno-Hatta karena sama-sama hanya punya dua landasan. Di Bandara Heathrow, NATS bisa mengelola 100 pergerakan pesawat per jam, alias setiap 36 detik ada pesawat yang mendarat dan lepas landas.

Tidak mengherankan, Airport Council International menempatkan Bandara Heathrow menempati urutan ketujuh bandara tersibuk di dunia pada 2017, dengan 78 juta penumpang. Sedangkan Bandara Soekarno-Hatta sepanjang mencatat ada 63 juta penumpang atau peringkat ke-17. Capaian itu lebih baik satu tingkat dibandingkan Bandara Changi dengan 62,22 juta penumpang. 

Sirait menuturkan, hasil mengikuti pelatihan tentang HIRO di Inggris dan penggantian radar untuk mendukung tugas ATC membuat lalu lintas penerbangan terus meningkat. Dia menuturkan, pada 2013 tercatat hanya 68 pergerakan pesawat per jam di Bandara Soekarno-Hatta. Setahun kemudian, meningkat menjadi 72 pergerakan pesawat per jam. Pada 2016, bertambah lagi menjadi 72 pergerakan pesawat per jam. Pada tahun lalu, tercapai 81 pergerakan pesawat per jam dengan jumlah penumpang hampir 200 ribu per hari.

"Pada 2016 lalu, kita ganti radar yang sudah berusia tua 32 tahun. Orang-orang di ATC dilatih ke Bandara Heathrow di Inggris (tahun 2014), kita perbaruan konfigurasi penerbangan sehingga membuat kapasitas pergerakan pesawat menjadi maksimal," ujar Sirait. 

Menurut Sirait, sebenarnya bisa saja pengaturan lalu lintas di Bandara Soekarno-Hatta dibuat menjadi 90 pergerakan pesawat per jam, namun kebijakan itu tidak diambil dengan berbagai pertimbangan teknis. "Di kita sekarang sudah 81 pergerakan per jam. Itu sebenarnya baru 90 persen, tidak kita tingkatkan penuh kapasitasnya menjadi 100 persen, karena space 10 persen ini buat jaga-jaga untuk penerbangan darurat," kata Sirait.

Dia mengakui, kepadatan lalu lintas penerbangan masih terjadi pada jam-jam sibuk, khususnya pagi dan sore hari. Meski begitu, pada waktu siang atau malam hari, antrean pesawat yang ingin lepas landas tidak terlalu lama antrenya. "Kita terus meningkatkan fasilitas bandara, bersama Angkasa Pura II karena bandara merupakan area mereka. Kita kerja sama bareng mendidik SDM supaya menyesuaikan konfigurasi penerbangan," ujar Sirait.

Menurut Sirait, sebagai bandara terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara dalam jumlah mengangkut penumpang, kesibukan Bandara Soekarno-Hatta memang membuat antrean pesawat tidak bisa dihindarkan lagi. Dia merujuk pada bandara-bandara besar dunia yang juga mengalami antrean pesawat karena kepadatan lalu lintas penerbangan. Meski begitu, pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan penambahan slot time maskapai dengan mengubah manajemen pengaturan penerbangan.

Upaya lain yang sedang ditempuh, yaitu pembuatan east cross taxy way yang berlokasi di pintu masuk utama Bandara Soekarno-Hatta. Dia menerangkan, kalau jalur itu nantinya selesai dikerjakan PT AP II maka dampaknya pesawat yang mendarat bisa langsung masuk taxy way. Hal itu akan mempercepat waktu tunggu pesawat yang ingin lepas landas, sehingga tercipta waktu yang lebih efisien. 

photo

Grafis kapasitas runway.

Sirait mengatakan, kolaborasi Airnav dan PT Angkasa Pura (AP) II akan membuat pengelolaan bandara menjadi lebih maksimal, yang ujungnya bisa meningkatkan kapasitas penerbangan. "Semua prosedur kita perbarui. Nanti traffic bisa dikondisikan, karena sesegera mungkin pesawat bisa keluar dari runway, dan kapasitas landasan bisa dimaksimalkan," kata Sirait.

Tidak hanya itu, lanjut Sirait, apabila pengerjaan landasan ketiga selesai maka pengaturan lalu lintas penerbangan bisa semakin mudah. Selain bisa menambah pergerakan pesawat hingga mencapai 114 per jam, juga membuat potensi penerbangan delay semakin kecil. Dia mengilustrasikan, bukan berarti ketika dua landasan bisa menampung 81 pergerakan pesawat per jam menjadi 140 pergerakan pesawat per jam setelah landasan ketiga selesai.

Sirait menjelaskan, pengaturan landasan ketiga nanti akan membuat manajemen penerbangan berubah total. Kalau sekarang landasan pertama dan kedua bercampur untuk lepas landas dan mendarat, sambung dia, ke depannya dipertimbangkan untuk memisahkan landasan untuk mendarat dan lepas landas. Selain itu, semakin padatnya penerbangan membuat intensitas perawatan menjadi lebih ketat. Dampaknya, ketika landasan satu ditutup untuk menjalani perawatan maka pergerakan pesawat bisa diarahkan ke landasan dua dan tiga, bisa juga sebaliknya.

Karena itu, ia berharap, target pembangunan landasan ketiga bisa selesai akhir 2019, agar kepadatan penerbangan bisa terurai. "Ada opsi memisahkan apakah take off dan landing dipisah, atau ketika sedang overlay landasan maka dicampur lagi, karena kadang pagi banyak pesawat berangkat, tapi kedatangan sedikit. Semua tergantung manajemen, kalau diterapkan sekarang susah," kata Sirait.

Selain itu, kata Sirait salah satu pencapaian Airnav dalam memberikan pelayanan maksimal bagi pengguna jasa penerbangan ialah semakin baiknya pengaturan lalu lintas pesawat. Kalau beberapa tahun lalu masih didapati pesawat yang akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta kadang harus berputar-putar dahulu, sekarang hal itu tidak terjadi lagi. Caranya, pesawat yang ingin lepas landas diatur berurutan dalam waktu singkat, dan baru setelah itu pesawat dari luar bisa mendarat.

"Sekarang hampir tidak pernah lagi ada antre di udara, adanya di bawah. Kita utamakan safety dulu, kalau lima tahun lalu masih ada pesawat muter-muter nunggu, itu bahaya. Kalau antrean pesawat hanya pagi dan sore, tapi kalau siang dan waktu tertentu malah sepi, ini kita dorong agar jadwalnya merata," kata Sirait.

Dukungan AP II

PT AP II sebagai pengelola Bandara Soekarno-Hatta berupaya menyelesaikan proyek landasan ketiga sesuai target, yaitu pada 2019. Dapat dipastikan, beroperasinya landasan ketiga dapat meningkatkan frekuensi lalu lintas pesawat hingga 114 pergerakan per jam dan masalah antrean pesawat akan teratasi. 

Vice President Corporate Communication PT Angkasa Pura (AP) II, Yado Yarismano mengatakan, pesatnya peningkatan lalu lintas penerbangan berpotensi menimbulkan beberapa masalah, di antaranya rendahnya on time performance (OTP) maskapai, kurang efektifnya pergerakan pesawat di airside, dan juga kurang optimalnya penggunaan slot penerbangan.

Karena itu, pihaknya bergegas merampungkan transisi manajemen operasi bandara dengan pendekatan teknologi, yaitu menyelesaikan proyek Airport Operation Control Center (AOCC) serta melakukan peningkatan kapasitas airside dengan membangun east cross taxyway (ECT) serta landasan ketiga. Apabila pembangunan ECT selesai maka diperkirakan pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta bisa mencapai 86 per jam. 

Tentu saja, pembangunan ECT dan landasan ketiga berkejaran dengan waktu lantaran pertumbuhan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta sangat tinggi. Berdasarkan data PT AP II, pada semester satu 2018 total sudah 32,4 juta penumpang naik dan turun di Bandara Soekarno-Hatta. Angka itu tumbuh sembilan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu 29,8 juta penumpang. Hal itu juga diimbangi dengan pergerakan pesawat yang naik 28,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Yado menjelaskan, keberadaan AOCC di Bandara Soekarno-Hatta nantinya mampu meningkatkan kualitas pelayanan operasional, di antaranya peningkatan OTP maskapai, pengoptimalan slot penerbangan, serta ground time yang lebih efektif dan efisien.

“Dibangunnya AOCC, ECT, dan runway ketiga ini didasari dari pertumbuhan industri penerbangan yang cukup signifikan setiap tahunnya dan membuat dinamika operasional semakin beragam. Melalui AOCC yang dapat memantau seluruh aktivitas di bandara secara real time maka kami optimistis seluruh aspek berjalan dengan lancar sesuai regulasi," ujar Yado.

Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso mengatakan, Bandara Soekarno-Hatta terus berbenah dengan membangun landasan pacu ketiga dan terminal empat yang dikerjakan PT AP II untuk menambah kapasitas pesawat dan penumpang. Menurut Agus, dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat di Indonesia rata-rata 11 persen per tahun. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan di kawasan Asia Pacific sebesar sembilan persen per tahun. 

Tentu saja, angka penumpang terbesar di Indonesia disumbangkan Bandara Soekarno-Hatta. "Jadi kita harus mengantisipasinya dengan mengembangkan kapasitas infrastruktur baik untuk penerbangan domestik maupun internasional," ujar Agus dalam siaran.

Agus mengatakan, pembangunan infrastruktur harus paralel dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pertumbuhan penumpang yang tinggi, sambung dia, berarti jumlah pesawat yang melayani juga bertambah. Hal itu diikuti kenaikan trafik navigasi penerbangan dan bandara yang makin sibuk. "Jadi semua operator terlibat dan harus mengantisipasinya," lanjutnya.

Namun demikian pengembangan kapasitas juga harus melalui perhitungan yang cermat antara naiknya layanan yang bisa disediakan dengan biaya yang dikeluarkan. Agus mencontohkan dalam pembangunan landasan pacu ketiga, akan dilakukan berdekatan dengan landasan kedua sehingga sifatnya dependent (tidak berdiri sendiri). Selain hemat biaya, juga agar pengaturan pergerakan pesawat bisa lebih cepat.

"Dengan sistem dependent yang akan kita pakai, sudah cukup meningkatkan pergerakan pesawat dari 81 pergerakan per jam saat ini menjadi nantinya 114 pergerakan per jam (jika landasan tiga jadi)," ujar Agus.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA