Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

Sunday, 24 Zulhijjah 1440 / 25 August 2019

'Mahasiswa Baru Harus Diberi Pemahaman tentang Radikalisme'

Senin 27 Aug 2018 12:10 WIB

Red: Fernan Rahadi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius memberikan paparannya saat wawancara di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (22/6).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius memberikan paparannya saat wawancara di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (22/6).

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Mahasiswa baru sangat rentan ini dengan penyebaran paham negatif ini.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penyebaran paham negatif radikalisme di wilayah kampus sudah sangat memprihatinkan. Bahkan mahasiswa baru menjadi tempat yang sangat subur dalam penyebaran radikalisme dan terorisme. Hal itu dikarenakan banyaknya dosen-dosen yang juga terpapar radikalisme,sehingga ketika mereka menjadi mentor, malah membawa anak didiknya ke paham negatif tersebut. Radikalisme di sini adalah radikalisme bersifat negatif yang mengusung takfiri, intoleransi, dan anti NKRI.

“Mahasiswa baru sangat rentan ini dengan penyebaran paham negatif ini. Hati-hati dalam memilih mentor,hati-hati dengan dosen,kalo kalian merasa sudah ada yang terlihat laporakan. Karena bukan cuma kalian yang terpapar,dosen juga terpapar, bahkan guru besar juga terpapar ,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius saat memberikan kuliah umum  bertemakan Kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara dihadapan 1700 lebih  mahasiswa baru Institut teknologi Nasioanal, Bandung (26/8).

Suhardi menegaskan universitas memegang peran penting, universitas melalui rektor bertanggung jawab dengan apa yang terjadi di lingkungan kampus. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, dalam hal ini menyebarnya radikalisme dan terorisme, maka rektor patut disalahkan.

“Saya sudah bilang sama  Menristekdikti, peran rektor itu sangat besar, apa yang terjadi di kampus itu tanggung jawab rektor. Kalu tidak mampu mengelola kampusnya saya minta rektornya diganti," katanya.

Menurut mantan Kapolda Jabar ini, masuknya mahasiswa baru ke suatu universitas, maka dimulai pulalah usaha perektrutan oleh-oleh kaum  radikal terorisme, dimana upaya perekrutan tidak hanya terjadi di universitas negeri tapi juga swasta.

Suhardi menjelaskan banyak sekali permintaan untuk mengisi kuliah umum oleh universitas terkait resonansi kebangsaan dan terkait radikalisme dan terorisme, sehingga ia bertekad  akan berusaha sebaik mungkin memenuhi undangan itu. Ini penting karena para mahasiswa adalah generasi muda calon penerus bangsa yang harus diberi pemahaman tentang bahaya paham negatif yang menjadikan mereka sebagai sasaran.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA