Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Survei: #2019gantipresiden Kian Populer Meski Ditolak Warga

Senin 03 Sep 2018 17:47 WIB

Red: Ratna Puspita

Ekpresi massa yang tergabung relawan nasional #2019gantipresiden

Ekpresi massa yang tergabung relawan nasional #2019gantipresiden

Foto: Republika/Iman Firmansyah
68,6 persen responden tidak setuju dengan gerakan #2019gantipresiden.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil survei Y-Publika menunjukkan tagar #2019GantiPresiden makin populer. Tingkat popularitasnya mencapai 69,9 persen meski sebanyak 68,6 persen responden menyatakan tidak setuju dengan gerakan tersebut.

"Survei pertama ditemukan 50,3 persen tagar ini diketahui publik, kemudian survei kedua alami peningkatan hingga 69,9 persen," kata Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/9).

Menurut dia, meskipun tagar tersebut makin populer, tingkat penolakan masyarakat juga tinggi. Sebesar 68,6 persen tidak setuju dengan gerakan tersebut, sedangkjan 28,3 persen menyatakan setuju.

Rudi menjelaskan tingkat ketidaksetujuan itu meningkat karena berdasarkan survei sebelumnya yang tidak sepakat sebesar 67,3 persen. Selain itu, dia menilai tagar tersebut makin populer meski persepsi publik makin kritis. 

Hal ini terlihat dari identifikasi terhadap pihak yang diuntungkan dari gerakan tersebut. Menurut dia, sebanyak 32,1 persen responden menganggap tagar tersebut menguntungkan kubu oposisi atau lawan politik Jokowi.

Baca Juga: Polri Persilakan Tagar Mendukung atau Kontra Presiden

Sebanyak 24,9 persen menilai pasangan Prabowo-Sandiaga sebagai pihak yang diuntungkan dari tagar tersebut. "Sebanyak 20,6 persen menganggap tagar tersebut sebagai kelompok anti-NKRI, 12,8 persen menilai sebagai kelompok pendukung khilafah," ujarnya.

Menurut Rudi, persepsi publik yang kritis juga terlihat dari identifikasi dari pengetahuan mereka bahwa gerakan itu bermotif politik, yaitu sebesar 28,3 persen. Ia menyebutkan sebanyak 25 persen menganggap sebagai kampanye politik sebelum pemilu.

Bahkan, 13,6 persen menilai sebagai gerakan mengarah makar. "Hanya 8,4 persen yang menganggap sebagai gerakan protes atau bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintah," katanya.

Survei Y-Publica dilakukan mulai 13 hingga 23 Agustus 2018 dengan 1.200 responden yang dipilih dengan teknik sampling acak bertingkat. Survei tersebut dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada responden menggunakan kuisioner dengan margin of error sebesar 2,98 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Baca Juga: Survei: Jokowi-Ma'ruf Unggul di Pemilih Milenial

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA