Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Meredakah Tekanan Terhadap Rupiah?

Jumat 07 Sep 2018 07:21 WIB

Red: Elba Damhuri

Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan.

Petugas menghitung pecahan dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Ahad (2/9).

Foto:
Stabilitas rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian Bank Indonesia.

Bank Indonesia (BI) berjanji menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari ancaman pelemahan yang lebih luas seperti yang terjadi di banyak negara berkembang. "BI akan tetap konsisten dan sekuat tenaga melindungi rupiah dari pelemahan yang cepat dan tajam," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta, kemarin.

Selain itu, otoritas moneter berjanji akan terus melakukan stabilisasi di pasar valas untuk memastikan ketersediaan valas mencukupi.

Di pasar surat berharga negara (SBN), bank sentral, sejak Kamis (30/8) hingga Selasa (4/9), sudah mengucurkan Rp 11,9 triliun untuk masuk ke pasar sekunder dan membeli SBN yang dilepas investor asing.

Nanang mengatakan, BI mengapresiasi langkah pemerintah menaikkan pajak impor barang konsumsi untuk mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan. BI memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan tahun ini sebesar 2,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tertolong hedging

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan, pelemahan rupiah tidak akan berdampak signifikan terhadap perusahaan BUMN. Sebab, BUMN yang memiliki utang valas pasti melakukan hedging (lindung nilai). "Lindung nilai sudah dilakukan perusahaan BUMN," katanya kepada Republika.co.id, kemarin.

Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II 2018 tercatat sebesar 355,7 miliar dolar AS. Jumlah tersebut terdiri atas utang pemerintah dan bank sentral sebesar 179,7 miliar dolar AS. Sedangkan, utang swasta sebesar 176,0 miliar dolar AS.

Jumlah utang itu tumbuh 5,5 persen secara tahunan (yoy). Akan tetapi, pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal I 2018 yang mencapai 8,9 persen (yoy). Perlambatan pertumbuhan ULN tersebut bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN, baik di sektor pemerintah maupun sektor swasta.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Kamdani menjelaskan, pelemahan rupiah hanya akan berdampak besar terhadap pengusaha yang memiliki utang dalam bentuk dolar AS.

Kendati begitu, ia menilai utang luar negeri Indonesia masih terkendali, meskipun rupiah sedang dalam tekanan.

"Masing-masing pengusaha sudah memiliki cara untuk mengantisipasi, salah satunya hedging untuk menghindari rugi kurs," katanya.

(adinda pryanka, ed: satria kartika yudha)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA