Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Solopeduli-UNS Bertekad Bangun Seribu Hunian di NTB

Sabtu 08 Sep 2018 11:19 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Esthi Maharani

Rumah Hunian Sementara (RHS) di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rumah Hunian Sementara (RHS) di Desa Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Foto: Republika TV/Muhammad Nursyamsyi
Solopeduli-UNS berkomitmen membangun seribu hunian sementara

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO - Solopeduli bersama Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berkomitmen membangun 1.000 hunian sementara (huntara) bagi para korban gempa Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB). Kedua instansi melakukan pertemuan dan pembahasan perencanaan huntara pada Kamis (6/9) di Fakultas Teknik UNS. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur Program Solopeduli, Wahyu Wahnuri dan Dekan FT UNS Sholihin As’ad.

Pertemuan tersebut membahas rencana pembangunan huntara meliputi desain, contoh huntara, bahan baku bangunan, titik wilayah huntara dan tanggal perencanaan pelaksanaannya. Desain bangunan ditargetkan pada 14 September 2018 sudah siap. Contoh bangunan huntara ditargetkan pada 20 September 2018 sudah berdiri di Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Direktur Program SOLOPEDULI, Wahyu Wahnuri menyampaikan Solopeduli membuka sinergi seluas-luasnya dengan berbagai pihak, salah satunya dengan Fakultas Teknik UNS. "Selain huntara, tim Fakultas Teknik UNS juga akan melengkapi huntara dengan klinik darurat dan sarana sanitasi," terangnya melalui siaran pers, Jumat (7/9).

Wahyu Wahnuri menambahkan, selain menyalurkan kebutuhan logistik, Solopeduli juga melakukan survei wilayah yang akan dijadikan titik pembangunan huntara di wilayah Kabupaten Lombok Timur, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

Pemilihan titik huntara di perkotaan berada di luar area perumahan, bukan di atas tanah rumah para korban tetapi di komplek yang dekat dengan perumahan para korban. Sementara untuk titik yang berada di pedesaan dipilih pada halaman rumah yakni di depan atau di belakang atau di kanan atau kiri rumah para korban.

"Artinya pemilihan titik tetap berada di luar rumah mereka, kami memohon doanya agar perencanaan ini dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala yang berarti," ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA