Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Terungkap, Gempa Berturut yang Hancurkan Palu

Jumat 05 Oct 2018 07:44 WIB

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Teguh Firmansyah

Suasana bangunan yang hancur pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami di Pelabuhan Wani, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Sejumlah warga menyelamatkan barang berharga pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami di Pelabuhan Wani, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/10).

Foto:
BMKG menilai peringatan dini diakhiri setelah tsunami terjadi.

Dari catatan tide gauge, tinggi air di wilayah Pantoloan mencapai 1,9 meter pukul 18.10 WIITA. Sementara di Mamuju, tsunami tiba pada pukul 18.27 WITA dengan ketinggian 6 cm. Namun, kata dia, di tempat lain dilaporkan lebih tinggi dari itu.

Ia mengatakan, ketika kejadian, BMKG hanya berbasis model untuk menentukan ketinggian dan waktu tsunami. Saat itu diperkirakan tsunami tertinggi mencapai 53 cm atau level siaga.

Selain itu, jika ditinjau dari model gempa tektonik yang merupakan pergeseran sesar mendatar, diperkirakan tsunami yang terjadi tidak signifikan.

"Itu dibuktikan oleh sistem peringatan dini tsunami di Jepang, tidak menerbitkan peringatan dini tsunami. Kemudian di Hawaii, Pasific Tsunami Warning Center, juga tidak mengeluarkan peringatan dini karena patahan mendatar itu," ujar dia.

Ia mengatakan, BMKG menunggu hingga pukul 18.36 WITA. Setelah itu, peringatan dini tsunami diakhiri.

Karena itu, kata dia, jika mengacu pada timeline tide gauge, BMKG mengeluarkan peringatan dini sebelum tsunami terjadi. Selain itu, peringatan dini diakhiri setelah tsunami terjadi. "Berita yang mengatakan bahwa BMKG gagal melakukan peringatan dini itu tidak benar. Karena dalam peringatan dini tsunami, disebut gagal jika kita tidak mampu mengeluarkan peringatan dini," tegas dia.

Daryono mengatakan, ketika tsunami terjadi, pada pukul 18.14 WITA gempa juga terjadi dengan kekuatan 6,3 SR. Menurut dia, tiga gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) benar membuat kerusakan berat, tapi yang memicu likuifaksi adalah gempa berkekuatan 7,4 SR.

"Jadi, sudah rumah retak diguncang 6,0 SR, kemudian datang 7,4 SR, dan datang lagi 6,3 SR, sehingga tanah yang berpotensi likuifaksi itu menjadi bubur dan menenggelamkan bangunan di atasnya," kata dia.

Berdasarkan data BMKG, hingga Kamis (4/10) siang terjadi ada 422 gempa susulan. Daryono mengatakan, gempa susulan terbesar berkekuatan 6,3 SR dan terkecil 2,9 SR. Gempa dirasakan terakhir Rabu (3/10) berkekuatan 4,7 SR dan gempa terkecil yang dirasakan berkekuatan 3,7 SR. "Kalau kita melihat karakteristik gempa susulan ini, memang lebih baik dari di Lombok. Gempa juga menyebar di sesar. Secara umum menurun," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA