Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Pencarian Korban Bencana Sulteng Dilakukan Hingga H+14

Selasa 09 Oct 2018 01:05 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Bayu Hermawan

Kepala BNPB, Willem Rampangilei

Kepala BNPB, Willem Rampangilei

Foto: MUTIA RAMADHANI/REPUBLIKA
BNPB menyakan pencarian korban dilakukan hingga 11 Oktober.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan, proses pencarian korban hilang pada gempa, tsunami, dan likuefaksi di Sulawesi Tengah (Sulteng) akan terus dilakukan hingga 11 Oktober. Artinya, proses pencarian akan melebihi standar operasi SAR yang biasanya hanya tujuh hari dan ditambah tiga hari.

Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan, pihaknya telah mendiskusikan penambahan waktu untuk proses pencarian dengan Basarnas. Menurutnya, perlu banyak pertimbangan dalam melakukan proses pencarian.

"Ini kan banyak jenazah yang masih tertimbun di daerah yang likuefaksi, terutama di Petobo dan beberapa tempat," katanya di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (8/10).

Wille, menjelaskan, jika melihat situasi, hal yang harus dipertimbangkan adalah kondisi korban tertimbun atau hilang. Mengingat, korban telah lebih dari tujuh hari tidak ditemukan. Kemungkiman besar jika ditemukan, kondisinya suit dikenali. Namun, tim SAR tetap akan melakikan proses pencarian hingga waktu yang telah ditentukan.

"Kita harus antisipasi apakah pencarian itu setelah tanggal 11 akan tetap dilanjutkan atau tidak. Itu kan pertimbangannya setelah tanggal 11 berarti sudah 14 hari. Bagaimana kondisi jenazah itu?," ujarnya.

Jika terus dilakukan pencarian, lanjut Willem, yang harus jadi pertimbangan kita adalah kesehatan. Jangan sampai, lanjut dia, proses pencarian itu justru menjadi kontraproduktif yang bisa menimbilkan permasalahan baru dalam kesehatan.

"Nanti itu akan kita putuskan tindak lanjutnya bagaimana. Dan ini sedang dibicarakan oleh tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat setempat," kata dia.

Ia menjelaskan, salah satu yang menjadi permasalahan kondisi tanah yang masih bercampur lumpur di Jono Oge. Menurut dia, diperlukan alat berat berupa eskavator amfibi. Namun, Willem mengatakan alat itu belum sempat didatangkan. Pihaknya masih berupaya mendatangkan eskavator amfibi, tapi ia juga mempertimbangankan kondisi korban yang sudah lebih dari 10 hari.

"Apakah akan dilanjutkan atau tidak. Kalau lanjut akan kita lakukan, tapi nanti tanggal 11 akan kita hentikan pencarian korban yang masih terkubur," ujarnya.

Selain itu, lanjut Willem, jumlah korban terkubur likuefaksi kondisi yang masih dan tanah amblas di beberapa lokasi belum diketahui. Berdasarkan laporan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), jumlah korban hilang dan tertimbun akibat tanah amblas dan likuefaksi mencapai 5.000 jiwa. Namun, Willem mengingatkan, angka itu masih perkiraan.

"Kita sudah menampung angka di posko dari masyarakat. Lima ribu itu berdasarkan catatan kepala desa dan dukcapil. Tapi pastinya kan tidak tahu," jelasnya.

Ia menegaskan, data korban yerus bergerak secara dinamis. Karen itu, perlu dilakukan validasi dengan baik mengenai. "Kita akan pelajari kembali mengenai data yang jadi korban di daerah masing-masing," ucapnya.

Menurut dia, proses validasi data korban tidak ada dihentikan meski tanggap darurat dan proses pencarian dihentikan. Ia menegaskan, sampai kapanpun akan BNPB akan terus melakukan validasi korban. Pasalnya, korban meninggal dunia itu terkait dengan santunan. "Kita akan mencari ahli warisya. Ini bukan pekerjaan singkat. Kita harus sabar melakukan itu sampai tidak ada yang terlewatkan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA