Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Om Bob, Bertahan di Tengah Puing untuk Bangkit Kembali

Rabu 10 Okt 2018 00:17 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah kendaraan melintas di kawasan yang terdampak gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10).

Bangunan masjid Al Amin di pesisir pantai Malambora, Donggala, Selasa (9/10).

Foto:
Rumahnya terpendam ke dalam tanah, menyisakan bekas-bekas patahan atap dan tiang.

Masjid Iqra, yang sebelumnya berdiri tegap dan memancarkan cahaya hijau dari pilar-pilarnya kini tak bisa lagi didatangi jamaah untuk beribadah. Masjid yang dibangun mantan Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele itu tersungkur setelah sebagian tanahnya terbelah dan mengeluarkan air bercampur lumpur.

Tanah di halaman masjid yang dulunya tandus kini menjadi aliran sungai kecil yang terbentuk seketika selepas gempa. Suasana rumah kos-kosan di belakang dan samping rumah Om Bob yang dulunya pecah karena tawa dan canda, kini tergantikan suara jangkrik.

Rumah tetangga yang biasanya ramah, haru membiru kini berubah seperti amarah karena tiang dan dinding-dinding pagar roboh. Dinding rumah jebol bahkan sebagian bergeser posisi, mengikuti pergerakan tanah saat gempa berlangsung.

Di tengah suasana inilah Om Bob bertahan di bekas reruntuhan rumahnya. Dia yakin akan ada hikmah di balik peristiwa dahsyat itu. "Ini ujian. Kita harus jalani dengan ikhlas karena di balik kesusahan Allah akan memberikan kemudahan," ungkapnya.

Itulah menjadi pegangan Om Bob sehingga dia mampu bertahan di tengah dua unit rumah permanennya yang roboh dan tak lagi bisa dihuni. Harta bendanya ludes dalam sekejap.

Sepekan setelah bertahan di dekat rumahnya bersama istri dan seorang anak bungsunya, Om Bob akhirnya mengungsikan istri dan anaknya sementara waktu ke Kalimantan.  Di Kalimantan, istri dan anak bungsunya itu tinggal sementara dengan anak sulungnya yang sudah berkeluarga dan tinggal di seberang pulau.

Sementara Om Bob memilih bertahan di lorong itu. Kendati seorang diri saat para tetangga dan penghuni kos sekitarnya mengungsi meninggalkan rumah dan harta benda lainnya, Om Bob memilih setia bertahan di rumahnya. "Sampai kapan pun saya tetap di sini, di tanah Kaili. Ini tanah nenek moyang kami yang harus kita bangun kembali setelah gempa," kata Om Bob.

Kompleks tempat tinggal Om Bob di Lorong II Lasoso, berjejer sekitar 30 rumah. Umumnya rumah permanen dan sebagian bangunan kos-kosan.

Saat gempa mengguncang Jumat 28 September 2018, lorong ini terbilang salah satu titik parah karena berada di jalur lempeng yang sumbu utamanya diduga dari wilayah di Kelurahan Balaroa. Tanah yang terbelah di lorong ini terhubung sampai di Jalan Lasoso sampai ke depan Palu Grand Mall. Sehingga terbentuk semacam alur sungai yang baru padahal sebelumnya tidak ada jalur sungai di lokasi-lokasi tersebut.

Rumah-rumah yang dilalui jalur ini terbelah. Bahkan sebagian badan rumahnya ikut tertimbun, seperti tersedot ke dalam tanah. "Ini di luar dugaan kita semua. Saya dan keluarga hanya bisa pasrah karena akan ada sesuatu yang lebih baik dari peristiwa ini," katanya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA