Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Minggu, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 Desember 2019

Om Bob, Bertahan di Tengah Puing untuk Bangkit Kembali

Rabu 10 Okt 2018 00:17 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Sejumlah kendaraan melintas di kawasan yang terdampak gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10).

Sejumlah kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9).

Foto:
Rumahnya terpendam ke dalam tanah, menyisakan bekas-bekas patahan atap dan tiang.

 

Detik-detik datangnya gempa petang itu, Om Bob baru saja selesai mengurus ternak ayamnya. Bapak tiga anak itu segera membersihkan badan dan bergegas menjalankan Shalat Maghrib. "Tiba-tiba angin bertiup, tidak lama kemudian gempa hebat. Saya baru rasakan gempa sebesar ini sampai saya berkali-kali jatuh," katanya.

Saat gempa mengguncang, Om Bob berusaha menghindar di antara pagar dan bangunan rumahnya. Hanya bergeser beberapa langkah tiba-tiba material dari dinding atas rumahnya roboh. Untungnya Om Bob tidak tertimpa.

Saat ia berusaha melangkah hendak menolong istrinya, ia kembali terjatuh dan melihat dinding depan rumahnya sudah roboh disusul atap rumahnya yang sujud ke tanah. Sementara dinding beton pagar dan rumah tetangganya sudah terjungkal.

Kabel-kabel listrik di depan rumahnya sudah menggelantung. Suara bruuuk, braaak pun tidak terbendung. "Saya, istri, dan anak bersyukur karena. Tetangga sekitar juga selamat," katanya.

Saat suasana gaduh memecah Maghrib petang itu, orang-orang pun berlarian mencari tempat yang aman menyusul merebaknya kabar tsunami sudah naik. Hampir semua rumah ditinggalkan tanpa tertutup.

Kendaraan ditinggalkan di tengah jalan karena jalan sudah pecah bahkan ambles. Tiang listrik dan kabel sudah menutup jalan. "Saat semua orang sudah pergi saya sendiri bertahan di sini. Sunyi sekali," katanya mengisahkan.

Saat itulah Om Bob mendatangi rumah-rumah yang masih bisa ditutup pintu rumahnya lalu mengamankan barang-barang berharga seperti enam laptop dan sejumlah telepon genggam.

Ketika para pemiliknya kembali tengah malam dan pagi harinya, barulah Om Bob menyerahkan perangkat teknologi itu kepada para pemiliknya. "Saya amankan barang-barang itu karena khawatir ada orang lain yang mengambil," katanya.

Hingga hari ke 11 setelah gempa, baru sebagian tetangga Om Bob yang kembali bersih-bersih rumah sambil menjaga harta milik mereka. Menjelang Maghrib tempat itu kembali sepi karena mereka mengungsi.

Lorong tempat tinggalnya hingga kini belum juga dapat dialiri listrik. Penyebabnya karena tiang-tiangnya miring bahkan kabel-kabel putus.

Lorong yang biasanya dilintasi mobil dan sepeda motor itu, hingga kini belum dapat dilalui karena banyaknya titik yang terbelah dan dialiri air. Meski seperti kota mati, Om Bob mengakui tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan tempat itu.

Baginya di tempat itulah separuh dari perjalanan hidup keluarganya dibangun dengan berbagai suka dan dukanya. Om Bob saat ini masih mengorek-orek barang-barangnya mungkin bisa diselamatkan dari rumahnya yang ambruk bahkan tenggelam ke dalam tanah. Setelah itu dia berencana membangun kembali tempat tinggal di lokasi itu dengan sisa-sisa kemampuan dan usia yang ada. Itu pun kalau pemerintah tak merelokasi dia ke tempat lain.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA