Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Acara Sudirman Said Dibatalkan, Ini Klarifikasi UGM

Ahad 14 Oct 2018 09:16 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Anggota Badan Pemenangan Nasional Pasangan Capes- Cawapres Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, Sudirman Said, melantik relawan Prabowo-Sandi (Padi) Jateng se-Solo Raya, di Gedung Sriwijaya, Solo, Sabtu (13/10).

Anggota Badan Pemenangan Nasional Pasangan Capes- Cawapres Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, Sudirman Said, melantik relawan Prabowo-Sandi (Padi) Jateng se-Solo Raya, di Gedung Sriwijaya, Solo, Sabtu (13/10).

Foto: Republika/Binti Sholikah
Pihak UGM ingin tetap menjaga kampus dalam posisi netral.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Hukum Pidana Fakultas Hukum UGM Eddy OS Hiariej membantah kabar mahasiswa sebagai penyelenggara seminar di Fakultas Peternakan akan terancam drop out (DO). Ia juga menyangkal jika ada tekanan intel terkait pembatalan seminar yang menghadirkan dua mantan menteri itu. 

Menurut Eddy, kabar tersebut 100 persen adalah kebohongan publik. "Tidaklah mungkin UGM sebagai institusi berintegritas yang reputasinya telah mendunia melakukan intimidasi akademik," kata Eddy Hiariej dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Minggu.

Dia juga telah mengonfirmasi  ihwal pembatalan seminar di Fakultas Peternakan UGM yang menghadirkan pembicara Sudirman Said dan Ferry Mursyidan Baldan ke Dekan Fakultas Peternakan Prof Dr Ir Ali Agus DEA. "Peternakan sangat tepat dalam menjaga kenetralan UGM sebagai institusi akademik," kata Guru Besar UGM ini pula.

Atas tindakan Dekan Fakultas Peternakan ini, Eddy Hiariej berpendapat, kampus adalah lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi kebebasan dan etika akademik.
Kampus adalah institusi independen yang nonpartisan, namun tidak tabu berbicara politik.

Baca juga, Sudirman Said Jadi Direktur Debat Prabowo-Sandi.

Dalam konteks kontestasi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilihan Umum Legislatif 2019, menurut Eddy, UGM sebagai institusi pendidikan sejak Pemilu 1999 telah menunjukkan kenetralannya.

Ketika Prof Ichlasul Amal Rektor 1998-2002, justru mengadakan Dialog Nasional untuk mengundang semua parpol menyampaikan visi-misi, ungkap Eddy Hieriej.
"Demikian pula dalam Pilpres 2004, Prof Sofian Effendi sebagai Rektor mengizinkan debat calon presiden secara berimbang," ungkapnya.

Dia mengatakan, kalau memang ingin menggalang dukungan dari kalangan kampus hendaklah menggunakan cara-cara yang beradab dan beretika secara jujur dan terbuka untuk mengadakan suatu debat publik secara berimbang dengan menhadirkan juga pasangan calon lainnya. Dengan begitu visi-misi sari para kandidat dapat dinilai secara ilmiah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA