Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Menguntai Rezeki dari Sang Tujuh Bidadari

Selasa 16 Oct 2018 16:33 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Curug tujuh bidadari.

Curug tujuh bidadari.

Foto: dotsemarang.blogspot.com
Curug Tujuh Bidadari menjadi objek wisata dengan mengumpulkan modal secara kolektif.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Anda sedang berada di Semarang? Cobalah mampir ke Curug Tujuh Bidadari. Objek wisata alam yang dibuka pada pertengahan 2010 ini mempunyai tiga tingkatan dan tujuh air terjun dengan ukuran yang berbeda.

Secara geografis, Desa Keseneng yang menjadi lokasi Curug Tujuh Bidadari persis berada di ujung Kabupaten Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal. Tepatnya di Dusun Keseneng, Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
   
Wilayah ini memiliki luas sekitar 228,252 hektare yang terdiri dari tiga dusun dengan penduduk sekitar lebih dari 1.500 jiwa. Berada pada ketinggian 700 meter diatas permukaan laut membuat sebagian besar warga Desa Keseneng merupakan seorang petani, baik sawah ataupun tegalan.

"Bagi kami, curug, sungai dan pemandangannya ya hal biasa karena setiap hari warga di sini bisa lihat," ujar Sekretaris Kelompok Desa Wisata Curug Tujuh Bidadari Mursalim saat ditemui di rumahnya.

Ia mengatakan awalnya warga setempat tidak menyangka jika keberadaan curug itu bisa menjadi rezeki dan perubahan bagi desanya. Semangat warga untuk mengubah nasib dan memajukan desa itu didukung jajaran Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang yang memberikan pendampingan atas pemanfaatan tempat itu menjadi objek wisata.

Desa ini sebelumnya merupakan desa tertinggal dengan pendidikan warganya yang sebagain besar hanya lulusan sekolah dasar (SD). Kekuatan untuk bangkit dari desa tertinggal itu diwujudkan warga dalam gotong royong berbagi tenaga, pikiran dan juga dana untuk mempercantik curug agar membuat banyak wisatawan semakin terpesona dengan keindahannya.

photo
Curug Tujuh Bidadari. (klikhotel.com)

Warga setempat secara mandiri mulai mengembangkan Curug Tujuh Bidadari menjadi objek wisata alam dengan mengumpulkan modal secara kolektif. Mereka kemudian menyiapkan berbagai infrastruktur penunjang dan pembenahan jalan di sekitar curug untuk memudahkan para pengunjung.

Tujuannya mewujudkan desa wisata yang makmur dan mandiri dengan potensi wisata alam yang ada. Semangat untuk maju itu pun ditunjukkan dengan berbagai upaya dari pemerintah desa, antara lain yakni dengan membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Keseneng 2011-2015.

Selain itu, juga Peraturan Desa tentang Desa Wisata Keseneng dan Badan Usaha Milik Desa Wisata Keseneng. Hal itu dimaksudkan agar pengembangan dan partisipasi warga semakin meningkat, serta lahir organisasi profesional dalam pengelolaan Desa Wisata Keseneng.

"Tentu ini sebagai rancangan, bahwa kami memiliki perencanaan dalam mengembangkan desa wisata ini dan memberi peluang luas bagi warga untuk lepas dari kemiskinan dan kebodohan," katanya.

Pengelola dan warga bahu membahu membuat sejumlah paket wisata yang menarik agar lebih banyak wisatawan yang berkunjung. Bahkan tinggal selama beberapa hari di rumah penduduk yang dijadikan homestay.

Sejak dibuka, rata-rata pengunjung yang datang yakni sekitar 2-3 ribu orang per bulan dengan tiket masuk seharga Rp 4.000 per orang untuk Senin-Jumat dan Rp 5.000 pada akhir pekan.

Hasil dari penjualan tiket itu sudah diatur sesuai peruntukkannya sesuai kesepakatan antara lain, untuk pendapatan desa yang digunakan bakti sosial, santunan anak yatim, dan uang kas masjid sebagai dana pembangunan masjid.

"Jadi ya semua warga tentu bisa merasakan, dan ini sudah berjalan dari awal sampai sekarang," tuturnya.

Mursalim menyebutkan, sebuah desa wisata atau objek wisata baru dianggap bisa berjalan dan diminati masyarakat jika jumlah pengunjung yang datang stabil hingga lima tahun.

"Curug Tujuh Bidadari ini sudah melewati masa itu, jadi sekarang tinggal dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Selain dari hasil penjualan tiket, pembangunan dan penambahan fasilitas juga dilakukan melalui pemanfaatan dana desa seperti penambahan jembatan penghubung, gasebo, serta lahan parkir kendaraan pengunjung. Mursalim mengakui masih ada pekerjaan rumah bagi pengelola Curug Tujuh Bidadari yang harus terus dilakukan.

Pekerjaan rumah itu yakni kreativitas warga untuk terus menarik dan menjadikan ciri khas curug yang letaknya tidak jauh dari Objek Wisata Candi Gedongsongo itu. Ke depannya, pengelola Curug Tujuh Bidadari akan bekerja sama dengan beberapa objek wisata yang ada di sekitar agar bisa menjadi rangkaian tujuan wisata di Kabupaten Semarang.

"Kami berpegang bahwa objek wisata tidak boleh saling mematikan, apalagi di sekitar sini banyak sekali tempat wisata dan desa wisata. Perlu kerja sama agalar tempat-tempat wisata ini menjadi rangkaian tujuan wisata bagi wisatawan serta maju bersama," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA