Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

ESDM Siapkan Pasokan Air Bersih di Palu

Sabtu 20 Okt 2018 02:52 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Esthi Maharani

Prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) membantu mendistribusikan air bersih ke tempat pengungsian warga di Jalan Veteran, Kelurahan Tanah Modindi, Kecamatan Mantikulores, Kota Palu, Rabu (10/10).

Prajurit TNI yang tergabung dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) membantu mendistribusikan air bersih ke tempat pengungsian warga di Jalan Veteran, Kelurahan Tanah Modindi, Kecamatan Mantikulores, Kota Palu, Rabu (10/10).

Foto: dok. Puspen TNI
19 sumur bor telah beroperasi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Dalam kunjungannya ke Palu, Sulawesi Tengah, Menteri ESDM, Ignatius Jonan meninjau sumur bor air bersih. Hingga hari ini, 19 sumur bor telah beroperasi, 1 sumur bor dalam tahap pengeboran, dan 18 sumur bor masih dalam tahap persiapan. Jonan mengatakan bahwa sumur bor ini untuk melayani kebutuhan air bersih bagi pengungsi.
 
"Mengenai instalasi air begini, kami di Badan Geologi itu membantu pembuatan sumur bor untuk darurat, sumur bor dangkal sekitar 30-40 meter. Itu untuk melayani kebutuhan air bersih bagi para pengungsi. Kalau ini tidak ada masalah sih, kita coba buat paling efisien. Kami juga usahakan ini ada instalasi penyulingan air atau instalasi untuk membuat air itu paling kurang siap masak atau kalau bisa siap minum. Air bersih akan jalan terus sampai dengan hunian sementara terbangun, mungkin dalam 2-3 minggu ke depan, ya sampai akhir bulan," ujarnya, Jumat (19/10).
 
Terkait dengan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah Palu dan sekitarnya, Badan Geologi telah menyusun peta rekomendasi geologi lingkungan. Peta ini menggambarkan informasi sumberdaya geologi dan bencana geologi yang dapat digunakan sebagai acuan pengambilan keputusan dalam melakukan pembangunan fisik pasca bencana.
 
"Lalu tim Badan Geologi kami, ada geologis, geofisis, dan ahli georadar kami terjunkan, ada 50 ahli untuk menilai wilayah mana yang bisa digunakan untuk hunian kembali, mana yang tidak. Ini yang kita butuh waktu, mungkin 2 minggu untuk berunding dengan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), mungkin kurang lebih satu bulan, ya sampai akhir bulanlah. Sampai akhir bulan mudah-mudahan tim ini bisa selesai semua. Terkait rekomendasi lokasi relokasi paling lambat akhir bulan Oktober akan diumumkan. Pak Gubernur yang akan mengumumkan," ujar Jonan.
 
Selain itu, Badan Geologi juga telah melakukan kajian untuk relokasi daerah amblas di Balaroa dan Petobo; pengambilan data lapangan, yakni surface rupture dan gerakan tanah; pengamatan kerusakan akibat likuifaksi; persiapan survei mikrotremor di lokasi yang terlah diusulkan; pemetaan dengan drone di Petobo, Balaroa, dan Jonooge; serta mengamati kemungkinan banjir bandang di Dolo, Kabupaten Sigi.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA