Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Warga Tanjung Karang Khawatir Ekonomi Sulit Bangkit

Sabtu 20 Oct 2018 23:24 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolanda

Sejumlah anak korban gempa dan tsunami, bermain sepak bola di lapangan pengungsian di desa Lompio Kabupaten Sirenja, Donggala Sulawesi Tengah, Ahad (14/10).

Sejumlah anak korban gempa dan tsunami, bermain sepak bola di lapangan pengungsian di desa Lompio Kabupaten Sirenja, Donggala Sulawesi Tengah, Ahad (14/10).

Foto: Darmawan / Republika
Warga masih trauma dengan guncangan.

REPUBLIKA.CO.ID, DONGGALA -- Warga Tanjung Karang, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, khawatirkan aktivitas ekonomi lama bangkit. Setelah gempa pada 28 September lalu, aktivitas warga Tanjung Karang berhenti sama sekali. Sementara sebagian besar mereka mencari penghasilan di sektor pariwisata.

Salah satunya Yuni, 50 tahun, yang sebelum gempa berjualan ikan bakar di pinggir pantai. "Perekonomian di sini belum pulih, harus sabar dulu," kata Yuni saat ditemui di pengungsian Tanjung Karang, Donggala, Sabtu (20/10).

Yuni mengatakan di Tanjung Karang air laut memang sempat masuk cukup dalam ke permukiman. Namun, arusnya tidak deras dan tidak sampai ada gelombang besar sehingga tidak menghancurkan.

Namun, warga masih trauma dengan guncangan gempa yang hebat. apalagi, Tanjung Karang berada persis di bibir pantai. 

Sampai saat ini warga Tanjung Karang masih mengungsi di dataran yang lebih tinggi. Mereka membuat tenda darurat di pinggir jalan. 

Yuni mengatakan, sebelum gempa ia berjualan ikan bakar untuk turis yang datang ke Tanjung Karang. Sementara, suaminya menyewakan perahu untuk turis melihat terumbu karang dan ikan-ikan yang ada di perairan tersebut. 

"Ramai, terutama setiap malam minggu, tapi yang paling ramai waktu tahun baru," katanya.

Setelah lebih dari 20 hari, warga masih trauma kembali ke rumah. Warga pun belum banyak yang kembali menekuni mata pencaharian masing-masing.

Warga Tanjung Karang lainnya, Sarwan, 30 tahun mengatakan untuk satu sampai dua tahun ke depan akan sulit daerahnya bisa kembali menjadi tempat destinasi wisata lagi. Karena langganan dan yang membawa turis dari luar daerah ke Tanjung Karang memang warga Kota Palu. Sementara, Palu salah satu daerah yang paling terdampak dari tragedi gempa dan tsunami. 

"Jadi itulah yang kami pikirkan untuk ke depannya apa yang bisa kami lakukan, kemudian nelayan, karena sebagian nelayan, juga bawa sepuluh termos hanya laku dua termos," kata Sarwan. 

Sarwan mengatakan gempa 22 hari yang lalu dampak ekonominya sangat besar. Sarwan seorang guru yang biasanya ikut mengantar tamu kesulitan mendapatkan penghasilan. 

"Sekarang mungkin belum terasa sekali tapi ke depannya ya ampun, sangat sulit, saya sudah berpikir ke depannya apa yang bisa dilakukan untuk bisa bangkit lagi untuk menghidupi keluarga," tambah Sarwan.

Tanjung Karang salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Tengah. Para wisatawan bisa menyelam dan menikmati keindahan dalam laut Sulawesi Tengah di sana. Sebelum gempa, banyak turis asing terutama dari Eropa yang berkunjung ke Tanjung Karang untuk liburan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA