Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Tuesday, 3 Jumadil Akhir 1441 / 28 January 2020

Mengenal Pauh, Aliran Termuda Silek Minangkabau

Ahad 21 Oct 2018 07:18 WIB

Red: Muhammad Hafil

Para pemuda sedang latihan Silek Pauh.

Para pemuda sedang latihan Silek Pauh.

Foto: Dok Republika
Telapak kaki jangan menapak, tetapi harus jinjit.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil/Wartawan Republika.co.id

 

Puluhan anak-anak muda berseragam hitam-hitam semangat memainkan gerakan-gerakan silat. Semangat mereka semakin menyala saat tim musik gandang tambuah yang terdiri dari alat musik tabuh dan gesek mengiringi gerakan mereka. Tegas, kuat, dan tepat sasaran. Begitu suasananya pada Sabtu malam selepas Isya beberapa waktu lalu.

“Telapak kaki jangan menapak, tetapi harus jinjit,” kata Dasrul sang guru silat berteriak kepada para puluhan pemuda yang latihan di sasaran atau perguruan Silek Pauh di Limau Manis, Kecamatan Pauh, tak jauh dari kampus Universitas Andalas Padang.

“Kenapa jinjit? Supaya cepat untuk membunuh lawan!” kata Dasrul lagi.
“Jangan kita yang menyerang pertama kali!, kalau lawan menyerang duluan, dia yang harus mati!” nasihat Dasrul.

Ini adalah gerakan silat atau dalam bahasa minangkabau disebut silek aliran Pauh. Aliran silat termuda di antara ratusan aliran silat yang ada di Sumatra Barat. “Bisa disebut sebagai silek bungsu (terakhir),” kata Dasrul.

Konon, berdasarkan sejarah Silek Pauh yang dituturkan oleh Dasrul, aliran silat ini adalah  beladiri bagi orang-orang Minangkabau di perbatasan Padang dan Solok. Mereka menciptakan aliran silat ini untuk menghalau penjajah Belanda yang sudah menguasai pesisir Padang. Di mana, orang-orang Belanda ini masih ingin merangsek masuk ke pedalaman Minangkabau seperti Solok dan Sawahlunto.

Pada masa agresi militer Belanda pascakemerdekaan pun, Silek Pauh ini juga digunakan oleh para pejuang untuk menghalau tentara Belanda masuk ke Solok dan Sawahlunto di mana di daerah itu terdapat tambang batubara. Karena aliran beladiri ini murni diciptakan untuk peperangan, maka gerakan-gerakannya pun adalah gerakan yang praktis untuk melumpuhkan lawan.

Adapun berdirinya aliran ini dari segi asal-usul, Dasrul menuturkan ada dua versi. Versi pertama adalah orang Pauh berasal dari Solok yaitu di daerah Kubung. Di Kubung ini, ada para dubalang (prajurit) yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Kemudian, mereka melarikan diri hingga ke perbatasan Solok-Padang di Pauh. Di sini, para dubalang yang aslinya memang para pesilat membentuk aliran silat sendiri yang mereka namakan Silek Pauh.

Sedangkan versi kedua, karena Pauh adalah daerah perbatasan tempat pertahanan terakhir orang Minangkabau di wilayah Barat, maka berkumpulah para pejuang dari berbagai daerah di Minangkabau. Di mana, mereka sebelumnya sudah menguasai banyak aliran Silek Minangkabau. Di antaranya yaitu Silek Sunur, Silek Sitaralak, Silek Tuo, hingga Silek Patai. Sehingga, mereka meramu banyak aliran silat itu dan menamakannya dengan Silek Pauh.

photo
Para pemuda yang memainkan musik gandang tambuah. Musik ini mengiringi para pesilat silek Pauh latihan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA