Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Kerugian dan Kerusakan Bencana Sulteng Capai Rp13,82 Triliun

Ahad 21 Oct 2018 16:51 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Bayu Hermawan

Kepala Pusat data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho

Kepala Pusat data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
BNPB mentaksir kerugian dan kerusakan akibat bencana mencapai Rp13,82 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis kerugian dan kerusakan akibat gempa di wilayah Sulawesi Tengah, mencapai Rp 13,82 triliun. Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ada pada sektor permukiman.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pendataan dampak bencana di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, Sulteng, hingga Ahad (21/10) pukul 13.00 WIB, sebanyak 68.451 unit rumah mengalami kerusakan.

Kemudian, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring dengan pendataan. Kemudian tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana.

"Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data per Sabtu (20/10) mencapai lebih dari Rp 13,82 triliun," ujarnya.

Sutopo menjelaskan, total Rp13,82 triliun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, terbagi atas kerugian mencapai Rp 1,99 triliun dan kerusakan mencapai Rp 11,83 triliun.

Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi lima sektor pembangunan yaitu kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp 7,95 triliun, sektor infrastruktur Rp 701,8 miliar, sektor ekonomi produktif Rp 1,66 triliun, sektor  sosial Rp 3,13 triliun, dan lintas sektor mencapai Rp 378 miliar.

Sutopo menjelaskan, dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat dan terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman disana. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuefaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge, dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Berdasarkan sebaran wilayah, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp 7,63 triliun, Kabupaten Sigi Rp 4,29 trilyun, Donggala Rp 1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp 393 milyar. Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan.

Diperkirakan untuk membangun kembali daerah terdampak bencana nantinya pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi akan memerlukan anggaran lebih dari Rp 10 triliun. Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya.  "Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA