Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Rabithah: Pembakaran Bendera Tauhid Nodai Hari Santri

Selasa 23 Oct 2018 15:29 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Karta Raharja Ucu

Anggota Banser membakar bendera tauhid (ilustrasi).

Anggota Banser membakar bendera tauhid (ilustrasi).

Foto: Dok YouTube
Rabithah meminta semua pihak menahan diri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) ternodai dengan adanya aksi pembakaran bendera yang kini menuai kontroversi. Rabithah Alawiyah mengecam tindakan tidak patut yang dilakukan oknum banser GP Anshor terhadap bendera bertuliskan kalimat tauhid tersebut. 

Tindakan pembakaran menurut Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen Bin Smith telah menodai perayaan Hari Santri Nasional. “DPP Rabithah Alawiyah mengutuk aksi oknum tersebut dan menghimbau kepada GP Anshor untuk menempatkan persoalan dengan jernih dan proporsional serta tidak perlu menyibukan diri dengan membuat alasan yang terkesan membenarkan tindakan tidak beradab tersebut,” ucap dia dalam siaran pers, Selasa (23/10).

Kepada PBNU, pihaknya percaya tindak pembinaan terhadap organisasi sayap tersebut harus lebih digalakkan. Agar menghilangkan kesan di masyarakat bahwa Banser di bawah GP Anshor lepas kendali dan cenderung melecehkan serta fobia terhadap simbol-simbol Islam universal yang digunakan pihak lain yang bertentangan dengan pandangan mereka.

Meski mengecam,  Rabithah Alawiyah meminta agar semua pihak dapat menahan diri untuk menghindari terjadinya perpecahan. "DPP Rabithah Alawiyah merasa perlu menyampaikan imbauan kepada semua elemen umat Islam untuk menahan diri terhadap provokasi ini,” kata Habib Zen Bin Smith. 

Hal tersebut menurutnya perlu dilakukan mengingat insiden itu terjadi dalam rangkaian acara perayaan Hari Santri Nasional. Ia mengaku khawatir jika insiden itu justru menimbulkan perpecahan di dalam umat Islam, jika masing-masing pihak tidak menahan diri.

Ia juga meminta agar semua pihak dapat menghormati hukum yang sedang berjalan. Serta tidak melakukan aksi yang justru bertentangan dengan hukum dalam upaya menyikapi insiden tersebut. 

“Kami juga mengimbau untuk tidak melakukan aksi yang bertentangan dengan hukum dan ketertiban,” kata dia.

Insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid terjadi di alun-alun Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin (22/10). Bendera tersebut diklaim milik organisasi terlarang HTI.

Guna mengantisipasi kericuhan, MUI juga meminta agar semua pihak dapat menahan diri. MUI juga telah meminta kepolisian untuk mengusut kasus tersebut.

Polisi telah mengamankan tiga orang yang diduga terekam dalam video melakukan aksi pembakaran. Ketiganya tengah dimintai keterangan terkait motif dari aksi pembakaran yang dilakukan. 

Polisi juga mengaku masih mengejar satu orang lagi yang berperan membawa bendera dalam perayaan hari santri nasional itu. Polisi juga akan meminta keterangan dan alasan bendera tersebut diikut sertakan dalam peringatan hari santri.

Setelah itu polisi juga akan meminta keterangan dari saksi ahli hukum Islam untuk menjelaskan insiden tersebut. Terutama menjelaskan perihal bendera dan dugaan kalimat tauhid di dalamnya. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA