Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Korban Gempa di Kaki Gunung Rinjani Pilih Rumah Kayu

Selasa 23 Oct 2018 14:36 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Andi Nur Aminah

Seorang warga sedang membuat rangka rumah kayu (ilustrasi)

Seorang warga sedang membuat rangka rumah kayu (ilustrasi)

Foto: Darmawan / Republika
Bangunan rumah dengan konstruksi kayu tidak terdampak saat gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK TIMUR -- Warga terdampak gempa di kaki Gunung Rinjani lebih memilih model rumah instan kayu (Rika) untuk pembangunan rumah ketimbang rumah instan sederhana sehat (Risha). Alasan trauma terhadap gempa menjadi alasan utama.

Kepala Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Lalu Kanahan, mengatakan, banyak warganya memilih Rika karena melihat pengalaman saat gempa sebelumnya. Dia mengatakan, hampir semua rumah dengan bahan baku semen mengalami kerusakan. Sedangkan bangunan dengan konstruksi kayu justru tidak terdampak.

"Kalau kita lihat, (rumah) kayu lebih kuat dari Risha, buktinya sudah kami lihat. Kalau Risha, belum kami lihat buktinya," ujar Kanahan di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Selasa (23/10).

Kanahan menyebutkan, jumlah rumah rusak di Sajang mencapai 600 rumah, dengan 193 rumah masuk pada kategori rusak berat. Dia mengatakan, seluruh warga yang rumahnya rusak berat telah mendapatkan buku rekening BRI, dan telah membentuk 15 kelompok masyarakat (pokmas).

"Tapi belum ada pencairan, belum ada realisasi. Warga bikin rekening lalu alurnya pokmas harus buat kuasa ke BRI untuk transfer ke rekening kontraktor. Kita lihat ini terlalu berbelit-belit kalau ke kontraktor kenapa ada pokmas. Ini terkesan di tengah masyarakat ini adalah bisnis," ucapnya.

Saat ini, dia mengatakan, sebanyak 50 warganya sudah mulai berinisiatif membangun sendiri rumah dengan konstruksi kayu karena merasa tidak tahan berlama-lama di tenda pengungsian. "Banyak rumah sudah jadi 100 persen dari kayu, dananya utang karena ada yang menjanjikan kalau rusak berat nanti dapat Rp 50 juta, mereka tidak tahan karena khawatir dengan kondisi anak-anak dan orang tua," kata dia.

Kanahan mengaku banyak warga yang kini khawatir dengan dana bantuan pemerintah. Mereka berharap pemerintah tetap memberikan dana bantuan untuk membayar utang warga yang sudah membangun rumah kayu. "Ada kekhawatiran ketika bangun dari kayu seolah-olah tidak ada rekomendasi untuk itu. Ada yang bilang nanti (uangnya) diganti setelah tim verifikasi memeriksa layak dan tahan gempa atau tidak, itu yang kami dengar," ungkapnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA