Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Thursday, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 February 2020

Buruh Tanam Perempuan Masih Termarginalkan

Rabu 24 Oct 2018 18:27 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

Petani di sawah.

Petani di sawah.

Foto: Antara.
Sistem pembayaran jasa tanam masih dipengaruhi oleh kesepakatan lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Kelompok Perempuan Penyedia Jasa Tanam (buruh tanam perempuan) memiliki kontribusi yang besar dalam mendukung produktivitas pertanian. Namun kontribusi yang besar dari perempuan penyedia jasa tanam ini masih dipandang sebelah mata.

Tak terkecuali di Jawa Tengah. Kontribusi tenaga tanam sangat besar dalam bidang pertanian, mayoritas tanam padi di daerah ini masih mengandalkan cara manual yang dilakukan oleh perempuan penyedia jasa tanam.

Dalam lima tahun terakhir, bantuan alat mesin tanam (alsintan) dari pemerintah di terus mengalir kepada gabungan kelompok tani (gapoktan). Tetapi lebih dari 90 persen kegiatan tanam masih dilakukan secara manual oleh tenaga tanam perempuan.

Yang menjadi persoalan, peran kaum perempuan dalam menopang produktivitas pertanian tidak sebanding dengan upah yang mereka terima. Karena sistem pembayaran jasa tanam masih dipengaruhi oleh kesepakatan lokal dan harga penjualan gabah.

Hal ini terungkap dalam sesi sarasehan dalam rangkaian Festival dan Sarasehan Tanam Jajar Legowo, yang digelar Konsorsium Beras Unggul Jawa Tengah, di Desa Ngrapah, Banyubiru Kabupaten Semarang.

Menurut Koordinator Program Konsorsium Beras Unggul Jawa Tengah, Ruth M Subodro, kendati memiliki kontribusi yang besar, kelompok buruh tanam perempuan ini juga minim dan  bahkan tidak mendapat akses bantuan.

Baik bantuan dalam bentuk pengembangan kapasitas/keterampilan serta dukungan dari pemerintah maupun stakeholder pertanian lainnya. Bahkan bantuan alsintan yang diberikan pemerintah selama ini juga tidak ramah terhadap perempuan.

“Termasuk dalam rangka mendukung metode tanam Jajar Legowo (Jarwo), salah satu komponen rekayasa teknologi dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah, yang kini terus digalakkan,” ungkapnya.

Pun demikian, lanjut Ruth, dalam organisasi seperti gapoktan, perempuan penyedia jasa tanam ini juga tidak mendapatkan perhatian. Karena kelompok perempuan yang ada selama ini adalah Kelompok Wanita Tani, yang anggotanya justru bukanlah petani perempuan, apalagi tenaga tanam perempuan.

Berangkat dari permasalahan ini, Konsorsium Beras Unggul Jawa Tengah, yang merupakan sebuah program Public Private Partnership (PPP) berupaya mendorong upaya peningkatan kapasitas bagi 58 gapoktan dari 15 kabupaten di Jawa Tengah.

Upaya ini dilakukan dengan beberapa rangkaian kegiatan pelatihan dan pendamping, dimulai dari proses budi daya padi, pengolahan pasca panen, dan mempertemukan unit bisnis gapoktan dengan pasar secara langsung.

Kemitraan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan 10 ribu petani  (25 persen perempuan) di Jawa Tengah melalui peningkatan produksi beras premium untuk pasar konsumsi Indonesia dengan penggunaan benih bersertifikat dan pupuk organik.

“Selain itu juga meningkatkan akses ke pasar dengan memperkuat kelembagaan petani dan bekerja sama dengan entitas swasta dan keuangan,” lanjutnya.

Di antara 58 gapoktan tersebut, telah terbentuk 47 Kelompok Jasa dan Pertanian. Kelompok ini memiliki tekad dan keinginan untuk mengembangkan jasa layanan di bidang pertanian, di antaranya adalah jasa tanam, jasa panen, produksi beras, dan pemasaran.

Salah satu yang menjadi kebutuhan bersama untuk meningkatkan jasa tanam adalah peningkatan kemampuan dan keterampilan teknologi tanam Jajar Legowo bagi penyedia jasa tanam perempuan, yang mampu meningkatkan populasi tanaman dan produktivitas padi hingga 15 persen.

Festival dan Sarasehan Tanam Jajar Legowo, selain bertujuan untuk membumikan metode tanam jajar legowo agar dapat meningkatkan produktivitas padi, juga bertujuan untuk mengenalkan lebih luas dan mendorong pengembangan kewirausahaan kelompok perempuan penyedia jasa di bidang pertanian.

Pada kegiatan ini juga diperkenalkan penggunaan mesin tanam yang ramah terhadap perempuan, yang berhasil dikembangkan oleh pengerajin mesin lokal. Acara ini diikuti 44 kelompok perempuan penyedia jasa tanam dari 15 kabupaten se Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan yang dilakukan konsorsium ini selain untuk memberikan semangat positif dan peningkatan kapasitas bagi penyedia jasa tanam. “Sehingga agar dapat menjadi penyedia jasa yang professional di bidang pertanian,” ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA