Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Peneliti LIPI: Dunia Maya Gerus Nasionalisme Klasik

Kamis 01 Nov 2018 06:23 WIB

Red: Didi Purwadi

Internet

Internet

Seseorang nanti akan merasa Indonesia tanpa harus tinggal dan lahir di negara itu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Nadzir, mengatakan internet telah menggerus nasionalisme klasik. Dampak internet akan mengubah bentuk nasionalisme itu.

''Perkembangan teknologi informasi menggerus nasionalisme klasik, nasionalisme tidak lagi dibatasi dengan batas-batas negara tapi sekarang nasionalisme tidak lagi mengenal batas,'' ujar Ibnu Nadzir dalam diskusi di Jakarta, Rabu.

Ke depan, kata dia, nasionalisme tidak lagi mengenal batas-batas negara. Seseorang nanti akan merasa Indonesia tanpa harus tinggal dan lahir di negara itu.

Kondisi itu, katanya, tentu saja mengagetkan, terutama bagi generasi sebelumnya yang menganggap bahwa nasionalisme yang diwujudkan dalam kecintaan pada identitas lokal. Ibnu mengaku belum tahu bentuk nasionalisme ke depan seperti apa.

Dia memberi contoh warga negara Korea yang tetap mencintai negaranya serta produk-produk dari negaranya di manapun berada. ''Untuk generasi milenial, perlu diperkuat pelajaran mengenai sejarah. Bagaimana Indonesia terbentuk. Namun yang diajarkan bukan hapalan, tapi bagaimana gagasan dari para pendiri bangsa ini,'' kata dia.

Hasil penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI yang dilakukan dalam kurun waktu 2015 sampai 2018 memperlihatkan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi memang memungkinkan terciptanya ruang publik baru. Namun, kemampuan untuk menjangkaunya masih terbatas pada kelas sosial tertentu. 

Ketua Kelompok Peneliti Kebudayaan dan Multikulturalisme LIPI, Thung Ju Lan, mengatakan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan perubahan struktur yang ada di masyarakat, seperti inovasi percepatan mata rantai ekonomi maupun kemudahan dan kebebasan berekspresi. 

"Komunitas-komunitas 'online' lebih mendasarkan pada ikatan-ikatan primordialisme, baik etnisitas maupun agama, daripada mendiskusikan nasionalisme," kata dia. Media sosial, lanjut Thung, seolah-olah membagi masyarakat dalam kotak-kotak yang acapkali memberikan ruang untuk saling menyebarkan kebencian. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA