Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Di Balik Operasi Penyusupan Tentara Israel ke Jalur Gaza

Kamis 15 Nov 2018 07:40 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Warga melintasi bangunan yang hancur akibat serangan Israel ke Kota Gaza, Rabu (12/11).

Tank Israel mendekati wilayah perbatasan Gaza, Rabu (14/11).

Foto:
Israel menyebut misi ini tidak bermaksud untuk memprovokasi.

Konflik terbaru di Gaza diduga merupakan skenario darurat yang dibentuk oleh sebuah satuan tugas Saudi untuk menutup tuduhan-tuduhan Turki yang ditujukan kepada Arab Saudi terkait kematian Khashoggi.

Sumber mengatakan, satuan tugas itu, yang terdiri dari pejabat kerajaan, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, dan dinas intelijen Saudi, bertugas memberi arahan kepada MBS setiap enam jam.

Satuan tugas itu mengatakan kepada MBS bahwa perang di Gaza akan mengalihkan perhatian Trump dan memfokuskan kembali perhatian Washington pada peran Arab Saudi dalam memperkuat kepentingan strategis Israel.

Kelompok itu juga menyarankan MBS agar segera menetralisir Turki dengan segala cara, termasuk dengan menyuap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan tawaran pembelian senjata Turki. Namun laporan ini belum bisa dikonfirmasi secara independen.

Pangeran MBS telah membantah terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Ia pun berjanji akan menyeret para pelaku pembunuhan ke pengadilan.

Dalam sebuah komentar yang disampaikan dalam konferensi Future Investment Initiative bulan lalu, MBS mengatakan kasus pembunuhan Khashoggi telah dimanfaatkan  untuk mendorong perselisihan antara Arab Saudi dan Turki.

"Itu tidak akan terjadi selama ada seorang raja yang disebut Raja Salman bin Abdulaziz dan seorang putra mahkota bernama Mohammed bin Salman di Arab Saudi," ujar MBS saat itu.

Beberapa rekomendasi lain dari satuan tugas itu juga diketahui oleh salah satu orang terdekat MBS, Turki Aldakhil, manajer umum saluran berita Al Arabiya. Dia mengungkapkan lebih dari 30 langkah potensial akan diambil Riyadh jika Washington memberlakukan sanksi.

Dia mengatakan kerajaan Saudi mampu menggandakan tiga kali lipat harga minyak, menawarkan Rusia pangkalan militer di utara negara itu, dan beralih ke Rusia dan Cina sebagai pemasok senjata utamanya. Berbicara kepada BBC awal tahun ini, Netanyahu mengatakan Israel dan beberapa negara Arab sedang mengalami proses normalisasi subterraneran.

Menurut sumber-sumber Middle East Eye, langkah-langkah lain yang direkomendasikan oleh satuan tugas adalah menunjukkan kepada Trump bahwa Arab Saudi tidak bergantung pada Washington. Arab Saudi akan mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengunjungi Riyadh.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA