Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Detik-Detik Pembantaian Satu Keluarga di Bekasi

Rabu 21 Nov 2018 17:02 WIB

Red: Ratna Puspita

Tim Gabungan  Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi  melakukan  rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga  atas tersangka Haris Simamora di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/11).

Tim Gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga atas tersangka Haris Simamora di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/11).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Peristiwa pembunuhan terjadi tepat pada dini hari sekitar pukul 00.00 WIB.

Oleh Dedy Darmawan Nasution

REPUBLIKA.CO.ID, “Kamu datang sekarang, besok kita mau belanja ke Tanah Abang jam 7 pagi,” tulis Maya Boru Ambarita dalam pesan percakapan Whatsapp. Kemudian, ia mengirimkan pesan itu kepada Haris Simamora, Senin, 12 November 2018, sekitar pukul 14.00 WIB.

“Iya, udah kak, saya ke sana,” jawab Haris.

Pesan tersebut terungkap dalam reka adegan pembunuhan Daperum Nainggolan bersama istrinya, Maya Boru Ambarita, dan kedua anaknya, Sarah Nainggolan dan Arya Nainggolan, di tempat kejadian perkara (TKP), Rabu (21/11). Pesan itu pula yang menjadi awal mula maut pembantaian.

Berdasarkan daftar adegan milik kepolisian, Haris tiba di rumah Daperum sekitar pukul 21.00 WIB. Tersangka HS bahkan sempat mengobrol dengan Daperum dan Maya di ruang tamu sambil menonton TV. 

Namun, saat mereka sedang mengobrol, Daperum mengungkapkan kata-kata yang dianggap Haris menyakiti hatinya. “Nginap atau ngga kamu, kalau kamu nginap nanti enggak enak sama abang kita Doglas,” kata Daperum. 

Maya menyambut, “Terserah mau nginap atau ngga, soalnya ini bukan rumah kita, kita cuma numpang di sini.”

Daperum melanjutkan, “Udah tahu kamu, kalau kamu (HS) nginap di sini, abang saya gak suka.” Ia lalu berbicara bahasa batak yang berarti, “Kamu tidur di belakang aja, kayak sampah kamu.”

photo
Tim Gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi melakukan rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga atas tersangka Haris Simamora di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/11). (Republika)

Kepala Polres Metropolitan Bekasi Kota Kombes Indarto menuturkan, usai mendengar pernyataan Daperum dan Maya, muncul emosi di dalam dada Haris kepada keduanya. Haris pun berpikir untuk membunuh keduanya dengan sebuah linggis sepanjang 30-40 sentimeter yang ia dapat di bawah wastafel rumah korban.

Linggis, kata Indarto, dipilih HS karena dinilai merupakan alat yang ampuh membunuh keduanya. Indarto menuturkan, Daperum dan Maya dipukul dengan linggis sebanyak tiga kali hingga keduanya pingsan di ruang tamu. 

Maya sempat sadar ketika mengetahui Daperum dipukul, tetapi Haris dengan cepat memukulnya. Haris lalu menusuk leher Daperum dengan ujung linggis yang tajam sebanyak tiga kali, begitupun kepada Maya. 

Peristiwa pembunuhan terjadi tepat pada dini hari sekitar pukul 00.00 WIB. Daperum dan istrinya lalu ditutup kepalanya dengan bantal karena darah keluar amat banyak.

“Bila ada pertanyaan kenapa tidak ada yang mendengar, jawabannya karena posisi korban sedang tidur, lalu dihajar dengan linggis dan dibunuh dengan cara ditusuk,” kata Indarto.

Tak lama, kedua anak mereka curiga dan ingin melihat orang tuanya. Namun, Haris menyuruh mereka segera tidur. Kemudian, Haris mencekik kedua anak itu selama 30 detik secara bergantian hingga akhirnya satu keluarga meninggal. 

Menurut Indarto, kedua anak korban sempat kejang-kejang. Usai membunuh, Haris lalu masuk ke kamar Daperum mengambil uang sekitar Rp 2 juta, empat ponsel Samsung, dan kunci mobil Nissa X-Trail berpelat B 1075 UOG. 

photo
Tim Gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Bekasi memasukkan tersangka Haris Simamora usai rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/11).

Haris lalu pergi dengan mobil itu menuju Kalimalang untuk membuang linggis yang ia pakai untuk membunuh. Salah satu penghuni kontrakan yang dikelola Daperum, Deny Saputra, menuturkan, dirinya pulang pada Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB. 

Saat itu, mobil korban masih ada. Sekitar pukul 02.55 WIB, Deny mengaku mendengar suara gesekan antara sendal dengan paving di depan kamar kontrakannya.

“Ini tidak biasanya, saya deg-degan dengar begitu. Lalu, jam setengah empat saya keluar, mobil sudah tidak ada. Pintu gerbang dalam keadaan terbuka. Ini janggal dan aneh,” katanya kepada Republika.

Deny merupakan adik dari Feby Lofa Rukiani yang menjadi saksi pertama pembunuhan. Ketika mereka mengetahui gerbang terbuka, keduanya berpikir positif dan tak mengira seluruh orang dalam rumah itu telah dibunuh.

Namun, hingga pagi datang, Feby yang sudah mengenal keluarga Nainggolan merasa aneh. Ia membuka jendela dan melihat Daperum dan Maya tergeletak bersimbah darah.

Rekonstruksi pembunuhan sedianya dilakukan di enam TKP. Kapolres Indarto mengatakan, rekonstruksi sedianya dilakukan untuk menyinkronkan alat bukti dan pengakuan tersangka. Rekonstruksi tersebut, kata dia, dilakukan hingga Kamis (22/11). 

Sedianya, terdapat 62 adegan di mana 37 adegan di antaranya ada di rumah korban. Rekonstruksi dimulai tepat pukul 11.37 WIB. Warga sekitar turut memadati area TKP dari balik garis polisi. Saat mobil Resmob Polda Metro Jaya bernomor 319-VII yang membawa HS datang, sontak warga berteriak dan meluapkan amarahnya.

HS tiba dengan kondisi kepala yang tertutup hingga leher mengenakan baju tahanan dengan tangan diborgol. Tak sedikitpun raut wajah cemas HS terlihat. Hanya ekspresi datar yang ia tunjukkan selama menjalani rekonstruksi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA