Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Komisi V DPR Gelar Rapat Terkait Jatuhnya Lion Air JT 610

Kamis 22 Nov 2018 12:25 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ratna Puspita

Ketua Komisi V DPR Fary Djemi Francis saat ditemui di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (6/2).

Ketua Komisi V DPR Fary Djemi Francis saat ditemui di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa (6/2).

Foto: Republika/Fauziah Mursid
Komisi V ingin mengetahui rekomendasi KNKT terkait musibah kecelakaan transportasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi V DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Perhubungan dan jajarannya terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 akhir Oktober lalu. Ketua Komisi V DPR Fary Djemi Francis mengatakan komisinya juga mengundang Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Basarnas, BMKG, dan pihak maskapai Lion Air.

"Hari ini kami Komisi DPR melakukan rapat kerja dengan menhub dan semua komponen stakeholder penerbangan nasional kita, ada KNKT, Basarnas, BMKG, maskapai penerbangan tentu juga pihak maskapai lion terkait dengan musibah jatuhnya JT 610;" ujar Fary Djemi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/11).

Fary mengatakan Komisi V DPR ingin mendengar beberapa penjelasan dari para mitra terkait musibah pesawat Lion Air maupun kecelakaan secara umum. Dari unsur KNKT, Komisi V ingin mengetahui data rekomendasi yang dikeluarkan KNKT terkait musibah kecelakaan transportasi selama lima tahun terakhir.

Ia melanjutkan, data rekomendasi tersebut nantinya akan ditanyakan kepada pihak Kementerian Perhubungan. "Nanti kita tanya ke Pak menteri, apa saja yang sudah, mana yang belum kalau belum, knp itu. karena kita harus serius menindaklanjuti dari hasil rekomendasi itu," ujar Fary.

Sementara dari pihak Basarnas, Komisi V DPR RI juga ingin mendapat penjelasan terkait kegiatan evakuasi penyelamatan korban penumpang. Selanjutnya, Politikus Partai Gerindra itu mengungkap rapat juga akan mendiskusikan terkait tren peningkatan kecelakaan transportasi dari tiga tahun terakhir.

Pada 2016, sekitar 11 kejadian, 2017 dengan 15 kejadian, 2018 itu 18 kejadian. "Untuk itu maka kita juga minta ke Pak menteri dan seluruh jajaran berkaitan dengan bagaiamana upaya keseriusan kita dalam rangka menuju ke zero accident," ujar Fary.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA