Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Indonesia Vs Filipina di Bawah Bayang-Bayang #KosongkanGBK

Sabtu 24 Nov 2018 11:38 WIB

Rep: Bambang Noroyono, Eko Supriadi, Antara/ Red: Andri Saubani

Suporter memberikan dukungan kepada timnas Indonesia yang melawan timnas Timor Leste dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Suporter memberikan dukungan kepada timnas Indonesia yang melawan timnas Timor Leste dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Fan timnas Indonesia kecewa dengan kegagalan skuat Garuda di Piala AFF 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, Timnas Indonesia bisa dibilang sudah gagal total di Piala AFF 2018. Laga terakhir Grup B kontra Filipina pada Ahad (25/11) sudah tak lagi menjadi laga yang ditunggu oleh para fan Garuda. Tagar #KosongkanGBK pun menggema.

Pendukung setia Skuat Garuda yang selama ini dikenal fanatik sangat kecewa dengan penampilan timnas asuhan pelatih Bima Sakti. Dengan komposisi pemain tak jauh berbeda dengan tim pada ajang Asian Games 2018, Indonesia kalah dari Singapura (0-1), menang atas Timor Leste (3-1), dan keok dari Thailand (2-4) dengan gaya permainan yang diakui gelandang Andik Vermansah, "Kurang enak dilihat."

Jika skuat timnas Luis Milla dengan mudahnya lolos dari babak penyisihan sebagai juara grup Asian Games 2018, timnas Bima Sakti di Piala AFF susah payah dan akhirnya menyerah, bahkan sebelum laga terakhir kontra Filipina digelar. Hasil seri Filipina kontra Thailand pada tengah pekan ini membuat peluang timnas melaju ke semifinal secara matematis tertutup.

Bima Sakti pun sudah pasrah. Dirinya menegaskan bertanggung jawab atas kegagalan skuat Garuda di Piala AFF 2018.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat sepak bola di Indonesia atas kegagalan ini. Dan saya sebagai pelatih bertanggung jawab. Saya pun akan menerima segala konsekuensinya, dan akan menerima apapun yang akan diputuskan PSSI,” ujar Bima usai latihan bersama timnas Indonesia di Lapangan Madya, Komplek Olahraga Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Kamis (22/11).

Menurut Bima, sepak bola Indonesia memang tertinggal jauh di belakang negara-negara di kawasan. Mantan kapten timnas Garuda era 1990-an itu, menambahkan, Indonesia harus meniru pembangunan sepak bola di Thailand atau Vietnam.

“Kita lihat mereka timnasnya terbentuk dari usia paling dini. Itu yang membuat mereka lebih baik, dan punya dasar yang bagus,” sambung Bima.

Bima tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Kondisi keuangan PSSI yang mengakibatkan tidak diperpanjangnya kontrak Luis Milla 'memaksa' Bima untuk mengambil tanggung jawab berat melatih timnas senior. Padahal, mantan kapten timnas Primavera itu belum punya pengalaman melatih tim di level senior, termasuk di tingkat klub.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat sepak bola di Indonesia atas kegagalan ini. Dan saya sebagai pelatih bertanggung jawab. Saya pun akan menerima segala konsekuensinya, dan akan menerima apapun yang akan diputuskan PSSI.” Bima Sakti



Harapan PSSI untuk melihat transformasi tim saat bermain apik di bawah asuhan Luis Milla pun pupus. Bima relatif hanya punya sedikit waktu persiapan jelang Piala AFF 2018 dan pengambilan beberapa keputusan taktikal membuktikan dirinya masih butuh jam terbang. 

Laga kontra Thailand menjadi salah satu contoh bagaimana Bima belum siap menjadi pelatih di level top. Pemilihan Awan Setho sebagai kiper utama ketimbang Andritany Ardhiasa yang bermain gemilang pada dua laga sebelumnya, berujung dua blunder berbuah gol untuk Thailand.

Sehari sebelum hasil seri antara Filipina dan Thailand, Bima menyatakan, timnas Indonesia masih membutuhkan dukungan suporter Tanah Air dalam laga terakhir Grup B Piala AFF 2018 menghadapi Filipina di GBK, Ahad.

"Kami tetap berharap dukungan dari suporter Indonesia apa pun hasilnya nanti. Kami akan berusaha kerasa memenangkan laga tersebut," ujar Bima.

Dukungan penuh suporter di GBK memang kerap berbanding lurus dengan kemenangan timnas. Pelatih tim nasional sepak bola Filipina tahun 2010-2011, Simon McMenemy mengenang, bagaimana atmosfer SUGBK dengan puluhan ribu penonton menciptakan suasana mencekam bagi tim lawan.

Ketika itu, Filipina harus menjalani laga kandang dan tandang di SUGBK karena mereka belum memiliki stadion berstandar internasional AFF. Simon mengakui timnya kesulitan dan pada akhirnya harus kalah dengan skor total 2-0.

"Kondisi stadion yang penuh dengan suporter akan meningkatkan motivasi pemain Indonesia. Sebaliknya, bagi lawan itu merupakan suasana yang mengintimidasi," tutur pelatih asal Skotlandia tersebut.

Baca juga

Paceklik prestasi

Kegagalan Indonesia di Piala AFF tahun ini, memperpanjang paceklik prestasi. Di Piala AFF, Indonesia lima kali menembus fase final, namun tak pernah berhasil juara.

Terakhir, pada Piala AFF 2016, Indonesia untuk kali kelima gagal di final. Sedangkan, nasib tak lolos fase grup tahun ini, menjadi yang keempat kalinya dialami Indonesia. Skuat Garuda, pernah mengalami kegagalan di fase grup pada Piala AFF 2007, 2012, dan 2014.

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi, mengaku prihatin dengan hasil timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Padahal, menurutnya, masyarakat Indonesia sangat mengharapkan timnas tampil lebih baik dari dua tahun sebelumnya.

''Semua pengurus PSSI prihatin, kita merasa terpukul. kita akan melakukan evaluasi segera. Tentu saja dengan kegagalan ini kita akan evaluasi menyeluruh, bukan cuma pelatih, baik kebijakan terkait timnas, manajemen, ofisial, itu akan kita bicarakan,'' ucap Yoyok, saat dihubungi Republika, Kamis (22/11).

Kegagalan tersebut juga mengancam posisi Bima Sakti sebagai pelatih kepala Timnas. Menurut Yoyok, Bima Sakti saat ini lebih cocok sebagai asisten pelatih daripada jadi pelatih utama.

Namun, ia menegaskan belum ada sikap resmi dari PSSI. Ia menyatakan, PSSI akan mencari pelatih yang lebih berpengalaman, namun tetap dengan biaya yang terjangkau.

"Artinya sesuai kemampuan kita, daripada kita memaksakan diri dengan pelatih mahal hasilnya juga belum tentu maksimal," ujar Yoyok.

Terkait dengan ramainya tagar #KosongkanGBK, Yoyok mengatakan menghargai kebebasan ekpresi dari suporter dan menjadi cambuk bagi PSSI. Apalagi, lanjut dia, suporter biasanya sudah banyak berkorban untuk menyaksikan timnas bermain.

"Kita hormati, kita harus menerima kalau prestasi tidak bagus. itu sebagai ungkapan kekecewaan," jelas dia.

photo
Jabatan Singkat Pelatih Timnas

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA