Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Badan Geologi Ungkap Penyebab Potensi Tsunami Susulan

Sabtu 29 Dec 2018 13:25 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Muhammad Hafil

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, Jumat (28/12).

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi terlihat dari KRI Torani 860 di Perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, Jumat (28/12).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Potensi tsunami karena longsorang Gunung Anak Krakatau relatif kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo menyebut potensi terjadinya tsunami susulan di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau saat ini dapat terjadi jika ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda. Sementara, potensi tsunami karena disebabkan longsoran letusan Gunung Anak Krakatau relatif kecil.

Purbo menyebut demikian, karena meredanya aktifitas Gunung Anak Krakatau yang sempat meningkat tajam pada 24-27 Desember 2018 hingga dinaikkan statusnya menjadi siaga (level III). Pantauan PVMBG, sejak Jumat (28/12) siang hingga Sabtu (29/12), letusan Gunung Anak Krakatau bersifat impulsif dan tidak lagi mengeluarkan suara dentuman.

"Potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda," ujar Purbo dalam keterangannya di Kantor ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12).

Karenanya, Purbo menilai saat ini yang tak kalah penting adalah mengantisipasi jika terjadi reaktivasi struktur patahan sesar di Selat Sunda. Karena menurutnya, tidak ada yang dapat memprediksi waktu terjadinya reaktivasi patahan tersebut.

Sedangkan, struktur patahan sesar Selat Sunda sangat kompleks, yang memanjang dan mengaitkan Pulau Sumatera dengan pulau sekitar Krakatau.

"Struktur sesar Selat Sunda itu kan itu struktur aktif yang mengaitkan antara Palau Rakata, Pulau Sebesi, Sampai Rajabasa di Lampung ya. Jadi kalo kita lihat bahwa itu yang tetap harus diantisipasi, bukan berarti kapan si struktur sesar ini aktif tetapi kalau struktur sesar aktif ini apa kita siap dibalik itu yang penting," ujar Purbo

Sebelumnya, Purbo mengatakan, pantauan Badan Geologi atas aktifitas letusan Gunung Anak Krakatau saat ini bersifat impulsif. Ia mengatakan letusan juga saat ini hanya bersifat hembusan dan tidak ada letusan dengan laju yang sangat besar.

"Kalau gunungnya meletus itu langsung lepas, asapnya menggumpal itu lari saja dan di bawahnya tidak ada yang mengikuti. Jadi seperti meletup, selesai. Kalau kemarin kan mengalir terus. Walaupun meletus masih ada asap-asapnya yang mengikuti, sekarang tidak," ujar Purbo dalam keterangannya di Kantor ESDM, Jakarta, Sabtu (29/12).

Menurut Purbo, pasca peningkatan aktifitas beberapa waktu lalu, volume Gunung Anak Krakatau mengecil dari tingginya 338 meter menjadi 110 meter. Ia mengungkap, sisa volume tubuh Gunung Anak Krakatau yang terlihat hanya 40 sampai 70 juta meter kubik.

"Maka kecil potensinya terjadinya longsoran besar," kata dia.

Menurutnya, dengan letusan bertipe surtseyan saat ini membuat potensi terjadinya tsunami relatif kecil. Letusan jenis itu karena terjadi dipermukaan air laut, meskipun bisa banyak menghasilkan abu, tapi tidak akan menjadi pemicu tsunami.

"Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan sesar yang ada di Selat Sunda," ujar Purbo.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA