Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

4 Cara Perangi Stres dan Cemas dalam 10 Menit

Senin 31 Dec 2018 07:46 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Wanita Stres (Ilustrasi)

Wanita Stres (Ilustrasi)

Foto: Timesofindia
Belajar menerima diri sendiri adalah langkah kunci menuju pikiran yang lebih sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Didorong oleh resolusi bahun baru dan niat baik, banyak dari kita akan berpikir bergabung dengan gym atau setidaknya melakukan olahraga lari jika cuaca baik. Tetapi haruskah bertekad yang sama untuk meningkatkan mental dan kesehatan fisik?

“Sebagian besar dari kita akan menghabiskan setidaknya 10 menit sehari untuk mandi atau mencuci, membuat makanan, membaca buku atau koran, aktif di media sosial, dan bermain bersama teman atau berbelanja, tetapi beberapa dari kita menghabiskan waktu untuk kesehatan mental, kekuatan, dan kebahagiaan,” kata seorang psikoterapis, Owen O'Kane, seperti dikutip dari Big Issue.

Kecemasan dan trauma sering terjadi di Irlandia Utara dengan selalu adanya ancaman dan ketidakpastian. O'Kane telah mengembangkan sistem yang menggabungkan berbagai teknik yang disebut Ten to Zen.

Menurutnya, itu dapat mengubah pandangan hanya dalam beberapa menit setiap hari. Itu dikembangkan dari pekerjaannya sebagai terapis klinis untuk layanan kesehatan mental di London dan dari pengalaman pribadinya.

“Saya tumbuh di Belfast selama masa yang buruk. Penembakan, pengboman dan kerusuhan adalah hal biasa,” ucapnya.

Pamannya ditembak mati dan meninggalkan seorang istri beserta empat anak. O'Kane juga merasakan konflik internal.

Menurutnya, penerimaan diri sangat terkait dengan kesejahteraan mental yang baik. “Banyak orang berjuang dengan identitas, seksualitas, berat badan, dan kelas," kata O'Kane.

Belajar menerima diri sendiri adalah langkah kunci menuju pikiran yang lebih sehat. Sebelum menjadi psikoterapis, O'Kane bekerja dalam perawatan paliatif selama lebih dari sembilan tahun. Menghabiskan waktu dengan pasien yang sakit parah mengajarinya banyak hal.

Pengalamannya sebagai psikoterapis membantunya merendahkan hati dan membuka mata. “Saya bisa mendengar kisah penyesalan mereka. Cerita tentang bagaimana stres dan kesulitan berdampak buruk pada kehidupan mereka. Orang yang sekarat mengajari kita hidup bukanlah gladi resik dan setiap saat adalah untuk hidup,” ujar O'Kane.

O'Kane telah menguraikan tekniknya dalam buku terbarunya Ten to Zen. Tidak seperti buku lainnya, buku ini tidak berceramah tentang meditasi atau teknik pernapasan tetapi didasarkan pada pelatihan NHS, apa yang ia gambarkan sebagai pendekatan bebas bulu untuk kesehatan mental. Buku ini menawarkan cara menenangkan pikiran yang gelisah, mengembangkan kemampuan berpikir lebih jernih dan rasional serta mempromosikan prinsip-prinsip seperti penerimaan, kasih sayang dan keaslian untuk membantu kita menjalani kehidupan yang lebih baik dan memiliki tahun baru yang sangat bahagia.

Berikut empat tips melawan stres dan kecemasan dalam 10 menit.

Jaga pikiran Anda seperti halnya bagian tubuh lainnya

Bertanggung jawab atas hidup Anda. Kita semua memiliki alasan untuk menghadapi kesulitan hidup. Sering kali itu membuat kita  menyalahkan dunia dan menjadi marah kepada orang-orang karena mengecewakan kita. Kabar buruknya? Itu masalahmu. Kabar baiknya? Anda adalah solusinya.

Luangkan 10 menit setiap hari untuk menjaga kesehatan mental

Kita semua memiliki hari-hari yang sedikit sulit. Sepuluh menit adalah berapa lama yang dibutuhkan untuk menata rambut, menyikat gigi, mencuci piring. Kita perlu menginvestasikan jumlah waktu yang sama untuk menjaga apa yang paling penting, yaitu pikiran.

Ingat, Anda bukan pikiran Anda

Perhatikan pikiran yang tidak membantu dan lepaskan kemarahan, dendam, keluhan, dan balas dendam. Pada akhirnya itu semua hanya akan membuat Anda lebih sakit. Anda dapat bebas dari emosi-emosi itu jika Anda bisa melepaskan itu semua.

Perlakukan diri Anda dengan kasih

Itu akan mengubah dunia Anda dan orang-orang di sekitar Anda. Jika ada epidemi ketidakpuasan seperti "Aku tidak suka tubuhku", "Aku berharap aku lebih pintar", "Kalau saja aku kaya", hal itu memiliki dampak yang merugikan pada diri ketika mendengarkan penolakan terhadap diri sendiri.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA