Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Mencari Model yang Tepat untuk Pendidikan Mitigasi Bencana

Rabu 02 Jan 2019 08:22 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/M Nursyamsi/Novita Intan/Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Hafil

Bencana alam (ilustrasi)

Petugas mengevakuasi jenazah korban bencana Tsunami di Kawasan Sumur, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12).

Foto: Republika/Prayogi
Selama 2018 terjadi lebih dari 2.000 kejadian bencana alam.

Sejumlah Pihak Menyarankan Pendidikan Mitigasi Bencana Masuk Kurikulum

REPUBLIKA.CO.ID, Akademisi Universitas Brawijaya Eng Fadly Usman sebelumnya pernah menyarankan, agar edukasi mitigasi gempa bisa masuk kurikulum. Minimal, dalam submata pelajaran sosial.

"Hal ini agar setiap warga negara Indonesia memiliki pengetahuan dan cara perlindungan diri yang cepat saat terjadi gempa ataupun bencana lainnya," ujarnya.

Sementara, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama akan mengkaji pembentuan kurikulum tanggap bencana. Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan pihaknya masih akan melakukan kajian terlebih dahulu. Apakah dibuat kurikulum khusus atau memperkuat yang sudah ada.

"Kita kaji dulu kemungkinannya; apakah perlu kurikulum khusus atau mengadaptasi atau meng-adjust yang sudah ada," terang Kamaruddin beberapa waktu lalu saat menanggapi dampak gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang banyak merusak bangunan madrasah, pesantren, dan Perguruan Tinggi Keagaman Islam (PTKI).

"Saya kira ke depan, perlu dikaji upaya untuk lebih mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi bencana," tambah Kamaruddin.

Sementara,  peneliti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ahmad Taufiq mengatakan,  Indonesia bisa mencontoh Jepang yang bisa menghadapi bencana gempa, tsunami, topan, hingga banjir dengan beberapa cara. Salah satunya menerapkan kebijakan kurikulum pelajaran bencana sejak anak-anak di Jepang duduk di bangku taman kanak-kanak (TK).

Pria yang pernah menempuh studi doktor di Jepang itu menceritakan pengalamannya menjadi survivor dan pengungsi saat terjadi bencana gempa bumi 7 skala richter (SR) di Jepang. Selama dua bulan menjadi pengungsi di negara itu, Ahmad mengaku, melihat sendiri bagaimana Jepang sangat komprehensif menangani bencana, termasuk gempa dan tsunami.

"Negara itu sudah komprehensif penangannya. Mulai dari pelajaran bencana jadi kurikulum, kebijakan tata ruangnya, hingga teknologi bangunannya," katanya.
Dikatakan Ahmad, Jepang yang sering terjadi gempa dan tsunami membuat negara ini memiliki kurikulum pelajaran bencana. Yaitu gempa, tsunami, gunung api, hingga banjir sejak bangku TK.

Di pelajaran itu, kata dia, murid-murid Jepang diajari pelatihan evakuasi bencana di kelas-kelas. Sehingga, begitu gempa skala besar hingga 7 SR mengguncang, masyarakatnya segera membawa tas dan menuju ke shelter dengan kondisi tenang.

Kondisi itu berbeda dengan Indonesia yang begitu terjadi gempa masih panik. Atau sesudah gempa kekuatan besar dan ancaman tsunami ada, masyarakat Indonesia bukannya mencari tempat tinggi tetapi justru tidak lari. "Jadi pemerintah wajib memasukkan pelajaran bencana jadi kurikulum," ujarnya.

Baca juga: Bank Dunia Klarifikasi Kajian Infrastruktur di Indonesia

Baca juga: Cerita Rumah Rasdi yang Tetap Utuh Usai Tsunami Menerjang

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA