Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Pengecekan KPU ke Tanjung Priok Bukan Karena Andi Arief

Kamis 03 Jan 2019 20:47 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Muhammad Hafil

Ketua KPU Arief Budiman bersama Komisioner Bawaslu Fritz Edward Siregar tiba di Gedung Mina Bahari untuk melapor ke Bareskrim Polri di Gambir, Jakarta, Kamis (3/1).

Ketua KPU Arief Budiman bersama Komisioner Bawaslu Fritz Edward Siregar tiba di Gedung Mina Bahari untuk melapor ke Bareskrim Polri di Gambir, Jakarta, Kamis (3/1).

Foto: Republika/Prayogi
Pengecekan untuk mendapatkan data dan fakta yang lebih kongkret.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah meyakini kabar adanya tujuh kontainer berisi surat suara Pilpres 2019 yang sudah tercoblos merupakan kabar bohong sejak siang hari. Pengecekan langsung ke lokasi kejadian dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta yang lebih konkret untuk dipertanggungjawabkan.

"Sejak siang (Rabu) KPU sudah meyakini bahwa itu hoaks. Tidak ada yang perlu untuk ditindaklanjuti sebenarnya karena kami yakin bahwa itu hoaks," ujar Ketua KPU, Arief Budiman, dalam konferensi pers yang dilaksanakan di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (3/1).

Ia juga menyebutkan, KPU bergerak ke Tanjung Priok, Jakarta Utara, untuk mengecek langsung bukan karena pernyataan politikus Partai Demokrat, Andi Arief. Menurutnya, yang memberi pernyataan di twitter bukan hanya Andi, ada banyak akun yang juga mencuit hal yang serupa.

"Sejak saat itu kami melakukan tracking bekerja sama dengan Cyber Crime Mabes Polri. Kami sudah sampaikan kemudian disebutkanlah beberapa akun itu anonimus. Tidak beridentitaslah kira-kira begitu," terangnya.

Namun kemudian, lanjut Arief, isu tersebut semakin berkembang. Melihat hal tersebut, KPU menilai perlu menyampaikan data dan fakta yang lebih konkret dengan mengecek langsung ke Tanjung Priok. Sebelum berangkat, KPU melakukan koordinasi dengan Bawaslu untuk melakulan pengecekan bersama.

"Jadi bukan karena orang-perorang itu. Tetapi KPU mempertimbangkan ada kemaslahatan yang lebih besar dibutuhkan oleh publik kalau KPU kemudian menyampaikan fakta dan data yang terjadi di lapangan," jelas dia.

Dalam melihat suatu persoalan yang menerpa KPU, Arief menjelaskan, pihaknya tidak ingin bereaksi terlalu cepat. KPU, kata dia, mempelajari dampak dari persoalan itu agar tidak kemudian membuat suasana swmalin gaduh.

"Tapi kami lihat kemarin itu, kalo dibiarkan ini sudah keterlaluan. Apalagi semakin malam makin banyak berita dan menyebutkan, KPU telah menyita satu kontainer. Wah ini jelas ini harus ditangkap. Makanya kemudian kami menindaklanjuti ke lapangan," tutur dia.

Sebelumnya ramai di media sosial bahwa ditemukan tujuh kontainer di Tanjung Priok membawa surat suara pemilu yang telah dicoblos. Andi Arif sempat mencuit informasi tersebut pada Rabu (2/1) malam.

“Mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara nah sudah dicoblos di Tanjung Priok,” bunyi cuitan Andi dalam akun Twitternya sebelum dihapus.

KPU pun segera melakukan pengecekan malam itu di Tanjung Priok. KPU menegaskan bahwa informasi tersebut adalah hoaks dan pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada Bareskrim Polri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA