Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Badan Geologi: Retakan Anak Krakatau Fenomena Wajar

Jumat 04 Jan 2019 17:13 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani

Warga mendayung sampan dengan latar belakang erupsi Gunung Anak Krakatau di Pelabuhan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Lampung, Selasa (1/1/2019).

Warga mendayung sampan dengan latar belakang erupsi Gunung Anak Krakatau di Pelabuhan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Lampung, Selasa (1/1/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Kamis (3/1) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) menekankan masyarakat untuk tenang terhadap isu longsoran Gunung Anak Krakatau yang berpotensi menimbulkan tsunami. Sebab, potensinya dinilai minim dengan melihat berbagai gejala yang ada.

Kepala Badan Geologi ESDM Rudy Suhendar mengatakan, wajar bila muncul retakan baru di Anak Krakatau. Retakan muncul karena aktivitas Anak Krakatau yang tengah membangun tubuh gunungnya. Tetapi, untuk besar longsornya dan waktunya retakan terjadi tak bisa diperkirakan.

"Nah seberapa besar retakan yang akan terjadinya tidak diketahui waktunya. Bahwa retakan kawah sesuatu hal biasa. Kalau pun konsen di retakan kapan runtuhnya enggak tahu. Yang penting masalah ini jangan ditonjolkan masyarakat tenang saja itu wajar gerakan gunung aktif," katanya pada Republika, Jumat (4/1).

Ia menyampaikan, tsunami memang bisa diakibatkan oleh longsoran gunung maupun aktivitas tektonik. Kemampuan Badan Geologi memprediksi tsunami didasarkan pada pemantauan. Ia menekankan guna meningkatkan ketepatan prediksi, Badan Geologi perlu memperkuat sistem peringatan dini.

"Tsunami itu mau dari longsoran gunung, tektonik tidak tutup kemungkinan terjadi. Yang penting ada sistem peringatan dininya," ujarnya.

Ia menyebut longsoran Anak Krakatau pernah terjadi sebelumnya. Sehingga, bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda beberapa waktu lalu bukan longsoran pertama.

"Kalau lihat massa gunung kecil sih, tidak ada tanda-tanda meletus sangat besar. Tidak menghancurkan badan yang ada di bawah laut. Tidak perlu didramatisir karena bisa menakutkan masyarakat," tuturnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menginformasikan telah terjadi letusan (erupsi) Gunung Anak Krakatau, di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung Kamis (3/1), pukul 21.02 WIB. Melalui rilis PVMBG yang diterima di Bandarlampung, menyebutkan namun dalam keadaan itu tinggi kolom abu tidak teramati.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi sekitar emmpat menit 52 detik. Teramati lontaran material pijar tinggi 400 meter dari kawah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA