Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Monday, 25 Jumadil Awwal 1441 / 20 January 2020

Artis VA, Pelaku atau Korban?

Senin 07 Jan 2019 13:28 WIB

Rep: Dadang/Dedy/Mabruror/ Red: Teguh Firmansyah

Artis  Vanessa Angel (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (6/1/2019).

Artis Vanessa Angel (kedua kanan) menjawab pertanyaan wartawan pers usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (6/1/2019).

Foto:
Aturan positif di Indonesia masih menempatkan wanita tunasusila sebagai korban.

Luki menjelaskan, berdasarkan hasil pengelidikan, muncikari ES fokusnya 'memasarkan' artis bagi pria hidung belang. Sementara, mucikari TN lebih fokus mempromosikan seratusan model yang dibawahinya. Model-model tersebut terdiri atas model majalah populer, model FHM, hingga model iklan.

Terkait nama-nama artis dan model yang terlibat, Luki enggan mengungkapkannya. Menurutnya, yang pasti pihaknya sudah memiliki foto-foto, nama-nama, dan bukti transaksi dari para artis dan model yang terlibat prostitusi online tersebut. "Kita sudah punya foto-fotonya, sudah punya nama-namanya, sudah ada sebagian transaksinya," kata Luki.

Sanksi sosial

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri menyarankan agar Vanessa diberikan sanksi sosial. Pasalnya, hukum positif Indonesia belum mengadopsi hukum voluntary prostitution atau prostitusi sukarela.

“Hukum kita (saat ini) tidak memosisikan pelacur sebagai pelaku, melainkan sebagai korban. Ini berangkat dari pandangan bahwa pelacur adalah manusia tak berdaya yang dieksploitasi pihak lain,” kata Reza dalam keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Senin (7/1).

Faktanya, ungkap Reza, saat ini tidak sedikit orang menjadi pelacur adalah mereka yang memilih berdasarkan perhitungan bisnis untung rugi. Sehingga, orang tersebut tanpa paksaan pihak lain bersedia dengan sukarela menjadi pelacur.

“Ia berkehendak dan memutuskan sendiri untuk menjadi pelacur. Dia adalah pelaku aktif dalam pelacuran,” kata Reza.

Namun, sayangnya, lagi-lagi, kata Reza, hukum positif Indonesia belum memosisikan pelacur sebagai pelaku. Padahal, dalam sebuah konferensi di Beijing beberapa tahun lalu menyarankan bahwa ada dua tipe bagi para pelaku prostitusi, yakni voluntary prostitution dan involuntary prostitution.

“Sayangnya, dua tipologi pelacuran tersebut belum diadopsi ke dalam hukum positif kita. Itu sebabnya, sebagaimana pada kasus pelacuran-pelacuran daring terdahulu, saya skeptis mereka bakal dipidana sebagai pelaku. Alhasil, penangkapan dan pemberitaan (justru) seolah menjadi promosi gratis saja,” terangnya.

Sementara itu, pelopor jurnalistik infotainment di Tanah Air, Ilham Bintang, mengkritik Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur yang seolah menitikberatkan publikasi prostitusi online pada dua nama artis, VA dan SA. Penanganan polisi juga dinilai bias gender.

“Saya menilai, kasus ini belum jelas duduk perkaranya. Pertama, artis itu berurusan sama siapa? Siapa menyewa dia? Siapa muncikarinya? Jadi pengungkapan kasus ini rasanya terlalu enteng,” kata Ilham kepada Republika.co.id, Ahad (6/1) malam.

Ilham mengatakan, polisi memublikasi dua nama artis Ibu Kota dengan cepat. Tapi, tak lama, keduanya dilepaskan. Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan. Karena jika keduanya dibebaskan, artinya mereka tidak melakukan pelanggaran hukum.

Ilham juga menilai, ada bias gender dalam pengungkapan kasus ini karena pengusaha yang disebut menyewa langsung dilepaskan. Ia menambahkan kasus ini semakin membuat tidak jelas modus dan definisi prostitusi daring.

“Seolah-olah, artis mudah diapa-apain gitu, sedangkan pengusaha yang disebut menyewa itu dilepaskan. Ini jadi seperti bias gender,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA