Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Mengapa Lion dan Citilink Kenakan Tarif Bagasi?

Jumat 11 Jan 2019 08:07 WIB

Red: Elba Damhuri

Pesawat Airbus milik maskapai penerbangan Lion Air.

Pesawat Airbus milik maskapai penerbangan Lion Air.

Foto:
Kebijakan bagasi pesawat berbayar ini akan memengaruhi UMKM.

Rencana maskapai mengenakan tarif bagasi tercatat dikeluhkan para pelaku usaha di sektor pariwisata. Sekretaris Umum DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Provinsi Lampung Adi Susanto mengatakan, penghapusan layanan bagasi gratis akan sangat berpengaruh terhadap biro perjalanan serta usaha kecil, menengah, dan mikro (UMKM).

“Salah satu pihak yang terkena dampak besar tarif bagasi adalah usaha biro perjalanan yang jumlahnya di Indonesia mencapai 7.000," Adi di Bandar Lampung, Kamis (10/1).

Ia berharap pengenaan tarif bagasi ditinjau ulang. Menurut kalkulasi Asita, kerugian yang akan diderita pengusaha biro perjalanan mencapai 30 persen dengan adanya pengenaan tarif bagasi. Dia menjelaskan, biro perjalanan yang sudah mempromosikan paket wisatanya tidak mungkin akan menaikkan tarif paket atau melakukan penyesuaian kepada konsumen atau pelanggan.

“Pelanggan akan lari kalau kami melakukan perubahan tarif paket wisata, atau menaikkan secara mendadak,” ujarnya.

Adi mengatakan, UMKM turut terdampak. Sebab, paket wisata yang ditawarkan anggota Asita mencakup pembelian oleh-oleh khas dari daerah destinasi wisata setempat. Selama ini, ujar dia, wisatawan banyak yang membawa oleh-oleh tidak dikenakan biaya alias gratis.

“Seperti di Lampung ada UMKM keripik pisang, kain tapis, baju, kaus, baju batik, dan kerajinan khas lainnya akan lesu lagi, tidak ada pembeli. Selama ini yang beli kebanyakan wisatawan semua,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengiyakan, kebijakan bagasi berbayar di penerbangan domestik akan berpengaruh pada pendapatan UMKM yang menjual oleh-oleh. Ia memprediksi, penurunan dapat mencapai 50 persen apabila tidak diantisipasi oleh pengusaha dan pemerintah.

Ikhsan menuturkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memaksimalkan fungsi jasa kurir di setiap daerah. Kurir memiliki peranan penting sebagai pengantar dan distributor produk UMKM apabila maskapai penerbangan komersial sudah tidak lagi menjadi pilihan masyarakat.

"Dibandingkan harus membayar bagasi sekian rupiah, sepertinya mereka akan beralih ke jasa kurir," ujarnya.

Peralihan preferensi tersebut bukan tanpa dasar. Menurut Ikhsan, dibandingkan harus membayar bagasi pesawat dan membawa oleh-oleh produk UMKM, jasa kurir cenderung lebih nyaman. Masyarakat cukup membeli di suatu daerah dan menitipkan ke kurir untuk kemudian dikirimkan ke destinasi.

Namun, Ikhsan mengakui, tantangan terbesar saat ini adalah pertumbuhan jasa kurir yang belum merata di berbagai daerah. Jasa kurir masih fokus di kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Masyarakat yang sedang bepergian ke daerah Indonesia bagian timur mungkin akan mengalami kesulitan.

Tantangan lain adalah pemahaman jasa kurir untuk mengemas secara baik dan memenuhi standar. Sebab, kebanyakan jasa kurir tergolong UMKM yang masih membutuhkan pembinaan. Untuk itu, Ikhsan berencana memaksimalkan pelatihan kepada jasa kurir apabila memang dibutuhkan.

(antara ed: satria kartika yudha)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA