Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Harga Tiket Tinggi, Asita Kalbar Menjerit

Sabtu 12 Jan 2019 11:58 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. (Dok)

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. (Dok)

Foto: ANTARA/Wahyu Putro
Asita Kalimantan Barat mengingatkan harga tiket pesawat mempengaruhi minat wisata.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Ketua Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Kalimantan Barat, Nugroho Henray Ekasaputra, mencermati maskapai penerbangan menjual tiketnya dengan memaksimalkan harga batas atas. Tingginya harga tiket pesawat diprediksi akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisatan, baik lokal maupun internasional.

"Sejak awal tahun ini harga tiket memang mulai dirasakan tinggi" ujarnya di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu.

Padahal, kata Henray, 60 persen aktivitas orang ingin berwisata dipengaruhi oleh harga tiket pesawat. Jika harga tiket tinggi tentu orang akan berpikir ulang atau akan mengevaluasi kegiatan berwisatanya.

Kalimantan Barat, menurut Henray, biasanya ramai dikunjungi wisatawan saat kegiatan keagamaan atau hari besar. Mahalnya harga tiket telah membuat wisatawan mengurungkan niatnya untuk berwisata ke Kalimantan Barat.

"Untuk Cap Go Meh saja sudah ada tamu kami yang membatalkan ke Singkawang karena biaya transportasinya sangat tinggi," jelas dia.

Menurut Henray, kondisi ini juga akan memengaruhi target kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia maupun kunjungan wisatawan Nusantara ke berbagai daerah. Ia menganggap target kunjungan wisata Nusantara dan 20 juta wisatawan mancanegara sukar tercapai jika harga tiket pesawat tinggi.

Selain harga tiket yang rata-rata mencapai batas atas, kendala pariwisata di Kalimantan Barat juga datang dari penghapusan bagasi gratis oleh sejumlah maskapai penerbangan. Henray melihat hal itu akan mempengaruhi minat wisatawan membeli produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Oleh karena itu, sebagai pemberi jasa perjalanan, pihaknya meminta pemerintah mempertimbangkan dan memerhatikan hal-hal tersebut terkait peningkatan kunjungan wisatawan. "Kami promosi ke sana kemari tidak akan berdampak maksimal tanpa didukung kebijakan yang memudahkan," ujarnya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA