Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Bayi Meninggal karena Makan Nasi, Ini Komentar Kemenkes

Sabtu 19 Jan 2019 01:10 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari (tengah berkerudung  merah) usai mengisi temu media mengenai Hari Gizi Nasional 2019, di  Jakarta, Jumat.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari (tengah berkerudung merah) usai mengisi temu media mengenai Hari Gizi Nasional 2019, di Jakarta, Jumat.

Foto: Republika/Rr Laeny Sulistyawati
Tenaga kesehatan di lapangan harus mempromosikan soal ASI dan MPASI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan tanggapan atas meninggalnya bayi berusia 4 bulan karena mengkonsumsi nasi utuh layaknya orang dewasa.

Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari mengatakan, pihaknya tidak tahu persis sebab pasti meninggalnya bayi 4 bulan akibat diberi makan nasi utuh. 

"Apalagi kami tidak melakukan otopsi sebenarnya untuk tahu penyebab kematiannya. Tetapi secara kesehatan memang bayi umur 4 bulan belum saatnya mendapatkan makanan nasi utuh seperti orang dewasa," katanya saat ditemui di konferensi pers temu media bertema Hari Gizi Nasional 2019, di Jakarta, Jumat (18/1).

Ia menegaskan, makanan bayi berusia nol sampai 6 bulan hanyalah air susu ibu (ASI) eksklusif. Ia menjelaskan, ASI hanya menjadi satu-satunya makanan untuk bayi karena ukuran lambungnya masih kecil dan belum memiliki enzim yang lengkap untuk mencerna makanan padat. 

"Jadi kalau usia 4 bulan dan benar diberikan makanan utuh tentu sudah tidak tepat," katanya. Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas, dia melanjutkan, bayi tersebut baru diberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bisa dibuat sendiri.

Ia menambahkan, pemberian MPASI untuk bayi tersebut diberikan secara bertahap mulai dari yang cair, halus, kemudian lembek. Kemudian setelah sang bayi berusia 1 tahun, ia menyebut orang tua bisa memberikan makanan untuk buah hatinya sama seperti anggota keluarga yang lain. Ia menyontohkan sang bayi bisa diberikan sayur bayam tetapi pasti sayurnya dipotong-potong, atau disuguhi sayur cap jay juga tidak masalah tetapi harus dipotong-potong. 

"Bisa juga memberikan daging ayam tapi harus dipotong-potong," ujarnya.

Berkaca dari masih adanya ibu yang tidak paham asupan gizi yang tepat untuk buah hatinya yang masih bayi, ia menegaskan Kemenkes terus melakukan promosi mengenai ASI eksklusif kepada masyarakat dan juga tenaga kesehatan.

Ia menyebut tenaga kesehatan menjadi salah satu sumber informasi mengenai ASI eksklusif karena seringnya para orang tua bertemu dengan tenaga kesehatan. Ia menyontohlan misalnya saat ibunya mengantar buah hatinya mendapatkan imunisasi kemudian bertemu dengan bidan.

Jadi Kemenkes meminta tenaga kesehatan harus ikut mempromosikan bahwa ASI eksklusif makanan bayi usia 0-6 bulan. Tak hanya itu, ia menyebut pos pelayanan terpadu (posyandu) juga diberdayakan dengan memberikan penyuluhan makanan yang tepat untuk usia itu. 

"Kalau dulu posyandu hanya memberi bubur kacang hijau tapi sekarang tidak bisa begitu. Sekarang posyandu diperkenalkan satu porsi makanan untuk anak yang sehat seperti apa," katanya.

Tak hanya itu, pihaknya juga menggandeng pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) untuk memberikan edukasi mengenai masalah ini. Ini diwujudkan dengan adanya pos dana operasional kesehatan untuk melakukan hal itu.

"Ini menjadi kunci pemberian makanan pada bayi dan anak dan menjadi salah satu kunci keberhasilan menurunkan stunting (balita bertubuh pendek)," ujarnya.

Sebelumnya, Beberapa hari lalu, ada sebuah thread di Twitter yang menjadi viral.

Dalam tweet tersebut, penulis menceritakan tentang seorang bayi berusia 4 bulan datang ke UGD dalam kondisi perut distended, sesak napas, nadi tidak teraba, dan tangis lemah.

Setelah diinterogasi, ternyata ibunya memberi si bayi makan nasi selama seminggu lebih. Tak setelah dilakukan pemeriksaan, bayi malang tersebut dilaporkan meninggal dunia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA