Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

Saturday, 19 Rabiul Awwal 1441 / 16 November 2019

DBD Meningkat Saat Musim Penghujan, Ini Sebabnya

Senin 21 Jan 2019 01:26 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Endro Yuwanto

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD.

Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD.

Foto: dinsos.jakarta.go.id
Aedes aegypti menetaskan telur di genangan yang ada saat curah hujan meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkap alasan mengapa penyakit demam berdarah dengue (DBD) meningkat terutama saat musim penghujan. Ini karena nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyakit, ini menetaskan telur nyamuk di genangan yang ada saat curah hujan meningkat.

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, virus dengue yang dibawa Aedes aegypti yang menjadi penyebab penyakit ini sebenarnya sudah ada saat musim kemarau maupun penghujan. Tetapi jumlah nyamuk lebih sedikit saat musim kemarau karena tidak menemukan wadah atau tempat meletakkan telurnya dan kemudian tidak bisa menetaskan menjadi jentik.

"Nyamuk kan harus menetaskan telurnya di air dan ketika musim hujan genangan air ada di mana-mana. Berbeda saat kemarau yang tidak ada genangan air," ujar Nadia saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (20/1).

Karena itu, Nadia menyebut DBD berbahaya dan meningkat kasusnya saat musim hujan seperti sekarang karena hewan tersebut sedang dalam jumlah banyak. Terlebih satu penderita DBD bisa digigit beberapa nyamuk maka akan cepat terjadi penularan. "Kalau jumlah nyamuk ini banyak dan ada satu saja penderita demam berdarah kemudian menggigit lainnya, maka banyak yang bisa terinfeksi (DBD)," katanya.

Kendati demikian, Nadia menegaskan virus yang dibawa nyamuk ini hanya bisa menular pada orang yang daya tahan tubuhnya buruk. Sebelumnya, Kemenkes mencatat pemerintah daerah (pemda) di tiga provinsi telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD sejak 1 Januari 2019 hingga 17 Januari 2019. Tiga provinsi tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut), dan Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Data terbaru sejak 1 Januari 2019 hingga 17 Januari 2018 tercatat sebanyak 13 provinsi telah mengirimkan W1 atau peningkatan wabah kasus DBD, bahkan tiga provinsi di antaranya telah KLB DBD," kata Nadia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA