Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Harga Turun, Peternak Ayam di Bengkulu Terancam Merugi

Sabtu 26 Jan 2019 21:52 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pekerja memberi pakan ternak ayam potong (ilustrasi)

Pekerja memberi pakan ternak ayam potong (ilustrasi)

Foto: Antara/Yusuf Nugroho
Kerugian hanya dirasakan peternak perorangan bukan yang dibawah perusahaan

REPUBLIKA.CO.ID, REJANG LEBONG -- Para peternak ayam potong di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, saat ini terancam merugi. Hal ini menyusul turunnya harga jual ayam dan sebaliknya harga pakan ternak malah mengalami kenaikan.

"Untuk ayam hidup di kandangnya dijual Rp 16.500 per kg, sedangkan di pasaran setelah dipotong dan dijual oleh pedagang berkisar Rp 28 ribu sampai Rp30 ribu per kg. Ayam hidup ini jika sudah dipotong akan menyusut 30 persen, namun pedagang masih bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 7.000 per kg," kata Fauzy, Direktur CV Memey Tun Ite (MTI) salah satu distributor ayam potong di Rejang Lebong, Sabtu (26/1).

Turunnya harga jual ayam potong ini karena stok ayam sedang melimpah baik yang dihasilkan peternak setempat maupun dari luar daerah. Akibatnya usaha peternakan yang dikelola perseorangan atau mandiri yang memelihara ayam antara 1.000-2.000 ekor akan mengalami kerugian.

Pendapatan peternak mandiri sudah tidak sesuai dengan modal usaha terutama untuk pembelian pakan yang mengalami kenaikan dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500 hingg Rp 8.000 per kg, serta harga pembelian anakan ayam broiler (DOC) mencapai Rp 7.800 per ekor.

Berdasarkan perhitungan dirinya kalangan peternak mandiri di daerah itu untuk satu ekor ayamnya bisa mengeluarkan modal hinggan Rp 34.050. Hal ini dihitung dari per ekor ayam sampai berumur siap jual bisa menghabiskan pakan hingga 3,5 kg, sedangkan harga pakannya Rp 7.500 dan kemudian pembelian DOC Rp 7.800 per ekor sehingga total per ekor mencapai Rp 34.050.

"Kalau masih Rp 19 ribu per kg mereka masih bisa mendapat keuntungan. Tetapi jika harga seperti sekarang ini sudah jelas rugi, karena satu ekor ayamnya paling tinggi beratnya 2 kg, yang jika dijual Rp 16.500 per kg baru dapat Rp 33 ribu," urainya.

Hal berbeda untuk peternak yang bergabung dengan perusahaan peternakan dengan jumlah ayam di dalam kandang lebih dari 4.000 ekor. Penurunan harga ayam potong dan kenaikan harga pakan tidak akan begitu terasa, karena harga beli pakannya biasanya sesuai harga kontrak awal sehingga mereka masih bisa mendapatkan keuntungan walau sedikit.

Sementara itu, dari data yang dimilikinya jika harga ayam potong di daerah itu saat ini mengalami penurunan harga jual ayam merah atau ayam petelur tidak produktif lagi mereka jual Rp 29 ribu per ekor.

Seterusnya mereka juga menjual ayam peren atau ayam afkir yang berasal dari indukan ayam broiler tidak produktif lagi dan juga sering mereka sebut ayam doraemon dan biasanya memiliki berat perekornya lebih dari 3,5 kg, untuk jenis ayam jenis mereka jual Rp 22.000 per kg.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA