Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Inaca: Tarif Tiket Saat Januari Selalu Tinggi

Jumat 01 Feb 2019 19:50 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (Kiri) didampingi Diputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti ketika mengumumkan perkembangan ekspor dan impor Indonesia di Kantor BPS, Jakart,Senin (17/12).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (Kiri) didampingi Diputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti ketika mengumumkan perkembangan ekspor dan impor Indonesia di Kantor BPS, Jakart,Senin (17/12).

Foto: Republika/Prayogi
Harga bagasi dan tiket pesawat memberikan andil terhadap inflasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikkan harga tiket pesawat mempengaruhi inflasi Januari 2019. Mengenai hal tersebut, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (Inaca) menilai kenaikkan tarif tiket tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap inflasi Januari 2019.

Ketua Umum INACA Ari Askhara mengatakan pada setiap Januari harga tiket memang tinggi. “Biasanya dari tahun ke tahun Januari itu selalu tinggi karena carry forward dari Desember,” kata Ari kepada Republika.co.id, Jumat (1/2).

Dia menjelaskan setiap waktu-waktu tertentu selau mengalami peak season. Seperti pada akhir pekan ini, kata Ari, menjelang Tahun Baru Imlek maka permintaan dari konsumen meningkat sehingga harga tiket untuk rute tertentu masih tinggi.

Sebelumnya, BPS mencapat inflasi pada Januari 2019 mencapai 0,32 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan harga bagasi dan tiket penerbangan uang naik berpengaruh pada tingkat inflasi Januari 2019.

Inflasi pada Januari 2019 sebesar 0,32 persen tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor penyumbang. Faktor tersebut yaitu tarif angkutan udara atau tiket pesawat yang menyumbang kenaikan sebesar 0,02 persen. Selain itu harga ikan segar menyumbang 0,06 persen, beras sebesar 0,04 persen, sayuran berupa tomat sebesar 0,03 persen, dan komoditas lainnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA