Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Anggaran Rp 100 M Disiapkan untuk Kembang Biak Komodo

Selasa 12 Feb 2019 12:20 WIB

Red: Indira Rezkisari

Komodo di Taman Nasional Pulau Komodo (ilustrasi)

Komodo di Taman Nasional Pulau Komodo (ilustrasi)

Foto: Republika TV/Fian Firatmaja
Wisatawan harus berjalan kiloan meter untuk melihat komodo di Pulau Komodo.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor B Laiskodat menyediakan anggaran Rp 100 miliar untuk pengembangbiakan populasi hewan purbakala Komodo (Veranus Komodoensis) di Pulau Komodo. Populasi komodo yang makin sedilkit membuat pemerintah harus mencari cara melestarikannya.

"Kami benahi semuanya. Mulai dari pengembangbiakan Komodo serta alam di pulau itu," kata Gubernur NTT kepada wartawan di Kupang, NTT, Selasa (12/2). Hal ini disampaikan berkaitan dengan rencana pengelolaan Pulau Komodo oleh pemerintah pusat, sekaligus melakukan pembenahan di Pulau Komodo yang menjadi ikon provinsi berbasis kepulauan itu.

Orang nomor satu di NTT itu mengatakan bahwa pembenahan di kawasan Pulau Komodo itu dilakukan antara lain menjamin pasokan makanan untuk hewan langka itu, seperti kambing dan rusa. Gubernur tidak menginginkan induk Komodo kembali memangsa anaknya sendiri akibat populasi ternak yang disiapkan habis.

Tak hanya itu, dengan dana sekitar Rp 100 miliar kawasan tersebut akan ditutup untuk sementara waktu. Penutupan diharap membuat keaslian dari Komodo sebagai hewan liar bisa terlihat.

"Orang datang ke Pulau Komodo itu untuk melihat liarnya Komodo. Bukan melihat Komodo di Pulau Komodo yang malas dan hanya tidur-tiduran saja," ujarnya.

Bahkan, kata dia, sulit menemukan Komodo dalam jumlah yang banyak saat berkunjung ke Pulau Komodo. Wisatawan harus berjalan kurang lebih satu kilometer atau lebih untuk bisa menyaksikan Komodo dalam jumlah yang banyak. Jika dibandingkan Pulau Rinca, kehidupan bebas Komodo yang selalu berkumpul dapat dilihat dengan mudah oleh wisatawan tanpa harus berjalan berkilo-kilometer.
    



Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA