Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Kekerasan di Bidang Pendidikan Didominasi Perundungan

Jumat 15 Feb 2019 18:39 WIB

Red: Ani Nursalikah

Guru dan siswa mengikuti kampanye anti kekerasan anak dalam Deklarasi Anti Bullying.

Guru dan siswa mengikuti kampanye anti kekerasan anak dalam Deklarasi Anti Bullying.

Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Anak menjadi pelaku aktivitas menyimpang karena pola asuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan awal 2019, mulai Januari hingga 13 Februari lalu kasus-kasus anak di bidang pendidikan banyak didominasi kasus perundungan. Ketua KPAI Susanto mengatakan, organisasinya menerima pengaduan kekerasan di dunia pendidikan, yaitu dua kasus berupa kekerasan fisik, enam kasus kekerasan psikis, dua kasus kekerasan seksual, dan lima kasus terkait kebijakan sekolah.

"Ada juga kasus anak dieksploitasi sekolah seperti diminta perbaiki atap sekolah. Saat melakukan perbaikan, siswa mengalami kecelakaan sehingga matanya kemasukan serpihan genteng tanah liat. Akhirnya dia harus dirawat cukup lama," kata Susanto, Jumat (15/2).

Selain menjadi korban perundungan, ada juga siswa yang menjadi pelaku perundungan, baik kepada sesama siswa mau pun kepada guru. "Kalau melihat kecenderungan saat ini, anak menjadi pelaku perundungan memang menjadi catatan besar. Namun secara kuantitas memang anak sebagai korban masih tinggi daripada anak sebagai pelaku perundungan," kata dia.

Susanto mengatakan hasil survei KPAI 2018 dari 15 Lembaga Pembinaan Khusus Anak seluruh Indonesia, menunjukkan anak yang menjadi pelaku aktivitas menyimpang karena pola asuh. Dia mengatakan anak menjadi pelaku perundungan pada guru, tentu tidak bisa disalahkan begitu saja, harus ada evalusi proses pengasuhan secara total.

"Kita harus lihat lingkungannya seperti apa, profilnya harus ditelusuri, kondisi psikologisnya, relasi si anak dengan senior, atau apakah ada hal di luar kewajaran yang terinspirasi kakak kelas," kata dia.

Dia mengatakan konsekuensi yang diberikan pada anak yang melanggar itu memang harus berkonsep dasar edukatif. Hal itu akan menghadirkan kedisiplinan pada anak, semakin hari semakin baik.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA