Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Tutup Tanwir, Wapres Ingatkan Urgens Muamalah Antarsesama

Ahad 17 Feb 2019 16:54 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Nashih Nashrullah

Penutupan Tanwir Muhammadiyah oleh wakil presiden Jusuf Kalla di Bengkulu, Ahad (17/2/2019).

Penutupan Tanwir Muhammadiyah oleh wakil presiden Jusuf Kalla di Bengkulu, Ahad (17/2/2019).

Foto: Republika/Wihdan
Muamalah menjadi bagian dari dakwah penting lainnya selain akidah dan ibadah,

REPUBLIKA.CO.ID,  BENGKULU— Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mendapat kehormatan untuk menutup Tanwir 2019 Muhammadiyah.

Baca Juga

Dalam sambutan penutupan tersebut JK berpesan agar  peserta Tanwir Muhammadiyah senantiasa menjadikan muamalah (interaksi sosial) sebagai bagian dakwah perjuangan Islam. 

Menurut JK, muamalah menjadi bagian dari dakwah penting lainnya selain akidah (ketauhidan) dan ibadah.

Hal itu disampaikan JK saat menutup Tanwir Muhammadiyah ke-51 di Wisma Gubernur Bengkulu, Ahad (17/2).

Menurut JK, Muhammadiyah yang menjadi bagian organisasi Islam memiliki peranan penting untuk perjuangan Islam.

"Tentulah menjadi bagian upaya, bukan hanya mendekatkan kepada dua hal tadi, aqidah dan ibadah melainkan juga muamalah harus menjadi bagian dari perjuangan daripada kita semua yg mana dia menjadi Islam," ujar JK dalam sambutan penutupannya.

Menurut JK, keagamaan di Indonesia saat ini memang makin menguat dari sisi ketauhidan dan ibadahnya. Hal itu tampak dari keagamaan masyarakat yang meningkat akhir-akhir ini.

Namun, JK menyoroti hubungan antarsesama manusia dan muamalah yang saat ini makin melemah di Indonesia. Padahal, JK menilai, baik aqidah, ibadah maupun muamalah sama-sama pentingnya.

"Kita kuat dalam ibadah dan akidah tapi kita tidak kuat dalam tata kehidupan yang Islami," ujar JK.

Karenanya, ia berharap Muhammadiyah berperan aktif dalam meningkatkan tata kehidupan yang Islami. 

Menurutnya, rekomendasi yang diputuskan dalam Tanwir Muhammadiyah dengan tema Beragama yang Mencerahkan juga harus benar-benar dilaksanakan peserta Tanwir maupun kader Muhammadiyah kepada masyarakat umum.

"Maka apa yang diputuskan Tanwir ini, itu menjadi bagian daripada upaya kita semua untuk mencerahkan Islam. Ya tanwir memang mencerahkan istilahnya, tapi dalam arti praktik," ujarnya.

Ada sembilan rekomendasi yang diputuskan pada sidang Tanwir yang digelar sejak Jumat (15/2) lalu.

"Sembilan poin pemikiran strategis Muhammadiyah untuk bangsa di antaranya, pemerintah Indonesia kedepan pasca 2019 itu harus semakin menjadikan agama, pancasila dan kebudayaan hidup bangsa sebagai nilai aktual dalam kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk kehidupan para pejabat publik,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir saat menyampaikan sambutannya di Rumah Dinas Gubernur Bengkulu, Gedung Daerah Balai Semarak, Bengkulu, Ahad (17/2).

Selain itu dalam keputusan Tanwir ini juga Muhammadiyah memberikan masukan pada penguatan civil society, seperti ormas-ormas dan Muhammadiyah sebagai kekuatan yang punya peran signifikan di dalam memberikan arah moral pemikiran kebangsaan.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA