Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Polri: Tim Tinombala Belum Berhasil Tangkap Ali Kalora

Senin 25 Feb 2019 16:35 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Ratna Puspita

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes  Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/12).

Foto: Republika/Ijal Rosikhul Ilmi
Setelah tim Tinombala turun ke lapangan, kelompok tersebut bergerak terpisah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim gabungan Tinombala belum berhasil menangkap pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Ahmad atau yang dikenal dengan Ali Kalora. Namun dalam perburuan, tim satuan tugas tersebut berhasil menemukan tempat persembunyian kelompok bersenjata yang berbasis di Sulawesi Tengah (Sulteng) tersebut.

Juru Bicara Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, operasi terakhir tim di lapangan mempersempit ruang gerak kelompok Ali Kalora. Kepolisian mendeteksi kelompok tersebut, yang kini berada di jalur Poso-Parigi Moutong, Sulteng. 

“Dari hasil terakhir, tim menemukan tempat persembuyian terakhir. Sejumlah barang bukti kita temukan berupa pakain, alat komunikasi, dan alat-alat penerangan,” terang Dedi di Jakarta, Senin (25/2).

Dia menambahkan, tim terus memburu Ali Kalora bersama kelompoknya. Menurut Dedi, ada yang berubah dalam pergerakan kelompok Kalora. Setelah tim Tinombala turun ke lapangan, kelompok tersebut bergerak terpisah.

Semula, kelompok bersenjata tersebut bergerak dengan gerombolan belasan orang. Kini, kelompok tersebut bergerak dengan membagi empat sampai lima orang dalam grup-grup terpisah. 

Kepolisian, kata Dedi, tetap memburu kelompok Ali Kolara dengan dua pendekatan. Persuasif masih dikedepankan dengan meminta keluarga, melaporkan aktivitas komunikasi Ali Kalora.

Ia juga meminta kelompok tersebut menyerahkan diri. Adapun pendekatan lain, terpaksa melakukan operasi bersenjata untuk terus memburu kelompok tersebut.

Kelompok Ali Kalora merupakan pentolan baru setelah pemimpin MIT, Santoso tewas dalam operasi Tinombala pada Juli 2016. Ali Kalora dianggap bertanggung jawab lantaran diduga sebagai pelaku pembunuhan dan memutilasi para penambang emas di Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulteng. 

Kepolisian menganggap Ali Kalora sengaja melakukan kejahatan tersebut agar kepolisian memmburunya. Beberapa waktu lalu, Kepolisian di Sulteng berhasil menangkap seorang kurir pemasok logistik untuk kelompok Ali Kalora. Akan tetapi, dari penangkapan tersebut, tim Tinombala belum berhasil menangkap Ali Kalora.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA