Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Menaker Minta Perguruan Tinggi Miliki Dua Orientasi

Jumat 01 Mar 2019 13:02 WIB

Red: Gita Amanda

Revolusi Industri 4.0. Menaker Hanif Dhakiri menjadi keynote speaker seminar nasional bertema

Revolusi Industri 4.0. Menaker Hanif Dhakiri menjadi keynote speaker seminar nasional bertema "Tantangan Ketenakerjaan pada Proteksi Sosial dalam Menghadapi Industri 4.0", di kampus Pascasarjana Universitas Pancasila, Jakarta, Kamis (28/2) lalu.

Foto: Kemnaker
Orientasi itu yakni menyesuaikan kebutuhan pasar kerja dan pembangunan kewirausahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perguruan tinggi di saat era revolusi Industri 4.0 hanya memiliki dua pilihan orientasi, yakni menyesuaikan kebutuhan pasar kerja dan pembangunan kewirausahaan. Orientasi Perguruan Tinggi yang terlalu akademis, tak akan memiliki relevasi dengan kebutuhan pasar kerja dan  memperkuat wirausaha.

"Kita didik dan latih anak-anak dengan dua orientasi agar bisa masuk pasar kerja dan kedua agar mereka bisa membangun wirausaha," kata Menaker Hanif Dhakiri usai menjadi keynote speaker seminar nasional bertema "Tantangan Ketenakerjaan pada Proteksi Sosial dalam Menghadapi Industri 4.0", di kampus Pascasarjana Universitas Pancasila, Jakarta, Kamis (28/2) lalu.

Menaker mengakui saat ini perguruan tinggi masih memiliki orientasi akademisi. Akibatnya banyak lulusan perguruan tinggi, yang kompetensinya masih dipersoalkan.

Hanif meminta kalangan akademisi atau perguruan tinggi agar tak terlalu takut dan mengkhawatirkan saat memasuki era revolusi Industri 4.0. Menurut Menaker, hal itu harus direspons dan diantisipasi secara memadai.

Baca Juga

"Karena dia akan munculkan tantangan sekaligus menciptakan peluang-peluang baru, " kata Hanif didampingi Direktur Bina Standardisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja, Sukiyo.

Hanif menegaskan yang perlu dilihat dari perjalanan revolusi Industri 4.0 adalah proses transformasi industri dari tahap 1, 2, 3 dan 4 dari sisi durasi waktu berjalan lebih cepat. "Revolusi Industri 4.0 lebih cepat. Beda dengan revolusi industri 1,2,3 lebih predictable. Tapi nanti jika perjalanan revolusi Industri 5.0, akan jauh lebih cepat lagi dibanding kurun waktu sebelumnya," ujarnya seperti dalam siaran persnya.

Hanif menambahkan yang membedakan revolusi Industri 4.0 dibandingkan revolusi industri sebelumnya adalah kombinasi tiga hal sekaligus yang sangat penting. Pertama, manusia (SDM), mesin (robot) dan big data. Ketiganya menyatu dikolaborasi bersama sehingga membuat segala sesuatu menjadi sangat mudah.

"Tantangan industri kita bagaimana menjaga kompetitiveness dengan berbagai bentuk inovasi, " katanya.

Sementara Rektor Universitas Pancasila Profesor DR Wahono, Apt, Sunaryono berharap bagaimana revolusi Industri 4.0 dari aspek ketenagakerjaan bisa dimanfaatkan secara bersama untuk kemakmuran masyaraklat Indonesia. Tujuan digelarnya seminar ini sebagai wujud hadirnya perguruan tinggi untuk membedah kebijakan untuk disampaikan kepada stakeholder.

"Dan sebagai introspeksi belajar mengajar itu terus di-upgrade sesuai dinamika perkembangan eksternal," katanya didampingi Direktur Pascasarjana Prof Dr Sutjipto.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA