Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Wagub Jabar Minta Kepala Daerah Gelar Pelatihan Dana Desa

Jumat 01 Mar 2019 13:22 WIB

Red: Gita Amanda

Ilustrasi Dana Desa

Ilustrasi Dana Desa

Anggara dana desa sangat besar jika tak dikelola dengan baik maka akan jadi musibah.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pascapemerintah pusat memberikan anggaran dana desa Rp 1 miliar per desa per tahun, desa-desa di Jawa Barat kini memiliki anggaran sekitar Rp 2 miliar setiap tahunnya. Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, anggaran yang besar tersebut perlu dikelola secara baik dan benar sehingga diharapkan para Kepala Daerah menggelar pelatuhan pengelolaannya.

Terutama terkait administrasi atau laporan penyajian keuangannya. “Uang ke desa hari ini banyak, beberapa sumber yang masuk. Kalau tidak didukung oleh kehandalan dalam bidang administrasi, saya khawatir anugerah jadi musibah," ujar Uu di acara Tepas (Temu Pimpinan Aspirasi Masyarakat) Edisi Ketiga di Gedung Negara Pakuan, Kota Bandung, Kamis (28/2) petang lalu.

Menurut Uu, dana desa akan menjadi anugerah. Namun, kalau ada uang tapi tidak mampu membuat laporan yang baik maka bisa menjadi musibah. “Maka solusinya harus ada pelatihan bagi mereka yang belum paham,” katanya.

Uu juga khawatir apabila salah dalam penyajian laporan keuangan bisa berujung pada tindak pidana korupsi. Untuk itu, Uu meminta peran pemerintah daerah kabupaten serta lembaga keuangan dalam memberikan pelatihan tersebut.

“Bahayanya, bisa diperiksa dan bisa dianggap korupsi (apabila salah dalam penyajian laporan keuangan). Padalah belum tentu dia korupsi, tetapi salah penyajian laporan bisa saja disebut korupsi,” kata Uu.

Uu berharap, para kepala daerah khususnya bupati, bisa  mengadakan kegiatan (pelatihan) seperti itu. Bahkan, ia berharap bukan hanya pihak pemerintah daerah, lembaga keuangan pun, perbankan khususnya dalam CSR, kalau bisa ada difokuskan untuk kegiatan pelatihan bagi kepala desa.

"Khususnya dalam bidang manajemen keuangan dan akuntansi pemerintahan desa,” katanya.

Hal tersebut juga dipertegas oleh Inspektur Pembantu Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat Inspektorat Jawa Barat, Mohamad Yudi Ahadiat. Menurutnya, pihak pemerintah desa biasanya ingin segera melakukan kegiatan mulai Januari. Padahal anggaran ke desa turun pada bulan Maret atau April.

“Tapi hampir keseluruhan desa itu anggaran tahun 2017 itu taruhlah terlambat turunnya, kan kalau anggaran itu 1 Januari itu sudah bisa running (kegiatan), mereka (anggaran ke kepala desa) itu turun anggaran bulan Maret atau April," kata Yudi seraya mengatakan, kepala desa banyak ingin cepat-cepat maka meminjam uang (ke bank) padahal seharusnya jangan pinjam.

Oleh karena itu, Yudi meminta agar para kepala desa bisa disiplin secara anggaran. Karena seharusnya program yang baik dilaksanakan setelah turunnya anggaran.

“Tunggu saja dulu, nanti pertanggung jawabannya kan bulan Januari padahal uang turunnya Maret, masa. Nah, itu yang jadi masalah. Makanya perlu ada pelatihan-pelatihan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bandung, Tata Irawan, yang turut hadir dalam acara Tepas mengatakan, bahwa dana pemerintah yang masuk ke desa saat ini sangat besar. Di Kabupaten Bandung saja dana desa yang diterima mencapai Rp 640 miliar.

“Jadi, kami berharap ada pelatihan-pelatihan yang diberikan untuk perangkat desa terhadap pengelolaan keuangan,” kata Tata.

Menurut Tata, apabila tanpa kemampuan pengelolaan yang baik, maka penggunaan dana desa tersebut akan kurang baik. Tata pun berharap pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Barat bisa memfasilitasi kegiatan pelatihan tersebut.

“Kami khawatir tanpa kemampuan yang baik pengelolaan keuangan ini menjadi kurang baik, sehingga dengan adanya pelatihan para perangkat desa bisa mengelola uangnya dengan baik,” kata Tata.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA