Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

HIV/AIDS Meningkat, Ibu Hamil Wajib Diperiksa

Rabu 06 Mar 2019 10:13 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Mengungkap fakta HIV/AIDS di Indonesia.

Mengungkap fakta HIV/AIDS di Indonesia.

Foto: Republika
Ibu-ibu hamil yang datang di Puskesmas pun harus diperiksa sampel darahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon Wendy Pelupessy mengatakan, angka penderita HIV/AIDS sesuai data dari para pegawai kesehatan yang proaktif di lapangan terus meningkat. Ibu-ibu hamil yang datang di Puskesmas pun harus diperiksa sampel darahnya.

"Jadi kalau ibu hamil yang datang berkunjung ke Puskesmas wajib diperiksa dengan pengambilan darahnya guna pemeriksaan yang bersangkutan apakah menderita HIV atau tidak," ujarnya di Ambon, Rabu (6/3).

Artinya, kalau ibu tersebut menderita HIV maka bisa dilakukan pengobatan teratur untuk memutus mata rantai dari ibu ke anak. Sehingga pada saat anak yang dikandung itu dilahirkan tidak menderita HIV.

Dia mengatakan, hal ini merupakan inisiatif petugas di Puskesmas untuk bekerja sama dengan Yayasan Pelangi untuk proaktif mencari kasus orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di lapangan.

Wendy juga mengakui, kalau setiap bulan, timnya turun ke lapangan atau lokasi yang berpotensi terjadinya HIV, juga ke kelompok-kelompok rawan. Misalnya ke karaoke dan sebagainya, atau ke komunitas-komunitas seks lelaki, waria-waria di datangi.

"Kenapa kita harus proaktif, supaya kita bisa mendapat data lebih dini, kalau yang bersangkutan dalam kondisi HIV bisa berobat lebih teratur tidak akan jatuh ke dalam AIDS," ujarnya.

Menurut dia belum tentu tidak ada kasus berarti tidak ada penderita HIV. Karena ini merupakan fenomena gunung es. "Tetapi kalau petugas kesehatan mendapatkan dilapangan sedini mungkin akan di jaga agar tidak jatuh ke dalam AIDS," ujarnya.

Kemudian kita juga melakukan sosialisasi ke tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, karena ini menyangkut perilaku, apalagi terkait perilaku bukan tugas dari kesehatan. Tetapi jika sudah menyangkut pelakunya, karena terkait perilaku maka menjadi tanggungjawab bersama tokoh-tokoh masyarakat, agama dan pendidikan keluarga.

Oleh karena itu di sekolah-sekolah juga dilakukan sosialisasi tentang perilaku-perilaku yang berisiko. Misalnya  yang berawal dari merokok, narkoba yang akan menyambung dengan kondisi-kondisi seperti itu.

"Kita mengetahui penyebarannya seperti apa, seks yang berganti-ganti pasangan, bisa menular dari ibu ke anak, atau bisa juga dari jarum suntik, transfusi darah dan sebagainya," katanya.

Dia menambahkan, data terakhir yang merupakan kasus baru, artinya yang didapat di tahun 2018 dalam kondisi baru yang menderita HIV itu sebanyak 264 kasus. Angka tersebut dalam satu tahun. Bisa dibayangkan kalau akumulasi dari 2004 sampai sekarang, jumlahnya mencapai 2.000-an.

"Pengiobatan tetap dilaksanakan, ARV-nya tersedia, jadi kalau misalnya Puskesmas  bisa mendeteksi dan memeriksa, ada di 22 Puskesmas, kecuali ada beberapa Puskesmas yang bisa mengobati lanjutan, sebab ketersediaan ARV hanya di beberapa Puskesmas, mengingat hak asasi manusia (HAM) dari mereka harus dilindungi, dan juga pemberian ARV secara gratis," ujarnya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA