Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Nelayan Karawang Semringah tak Ada Paceklik

Selasa 12 Mar 2019 21:10 WIB

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Teguh Firmansyah

Nelayan Karawang (ilustrasi).

Nelayan Karawang (ilustrasi).

Foto: Republika/Ita Nina Winarsih
Biasanya nelayan menghadapi paceklik karena cuaca yang tak bersahabat.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Aktivitas nelayan di Kabupaten Karawang, sampai Maret 2019 ini masih terbilang normal. Saat ini, masyarakat pesisir itu masih aktif melaut.

Baca Juga

Bahkan, hasil tangkapannya lumayan banyak. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, di triwulan pertama ini, biasanya nelayan sedang dilanda paceklik. Karena, kondisi cuaca tidak bersahabat.

Sekretaris Pokmaswas Minajaladri, Kampung Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, mengatakan, awal tahun ini aktivitas nelayan terbilang normal. Sebab, cuaca sangat bersahabat. Kalaupun ada gelombang tinggi, hitungannya hanya jam ataupun hari. Besoknya, kondisi di laut sudah kembali normal.

"Jadi, alhamdulillah tahun ini tidak ada musim paceklik buat nelayan," ujar Sahari, kepada Republika.co.id, Selasa (12/3).

Biasanya, lanjut Sahari, sejak Desember sampai Maret, hujan dan angin melanda perairan. Termasuk di Karawang. Tetapi, pada tahun ini tak terjadi. Gelombang tinggi, angin kencang, atau cuaca buruknya tidak sepanjang tahun-tahun sebelumnya.

Dengan kondisi ini, nelayan sangat diuntungkan. Sebab, hampir setiap hari masih bisa melaut. Untuk nelayan Pasir Putih, yang mayoritas mencari rajungan, sampai saat ini tetap melaut.

Bahkan, untuk satu trip perjalanan, bisa menghasilkan tujuh kuintal rajungan. Adapun harganya, untuk rajungan mentah Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan, rajungan yang sudah dikukus atau dalam kondisi matang, mencapai Rp 70 ribu per kilogram. "Jika tidak ada halangan cuaca, para nelayan tetap akan melaut," ujarnya.

Sementara itu, Hermansyah (27 tahun) nelayan setempat, mengaku jika tak ada kendala cuaca, maka setiap hari dirinya akan melaut. Sebab, bila tak melaut maka dapur keluarganya tidak akan 'ngebul'.

"Karena melaut ini, usaha pencaharian kami. Jika tak melaut, kami tak punya uang buat sekedar beli beras," ujar nelayan rajungan ini.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA