Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Fanatisme dan Radikalisme tak Melulu Soal Agama

Sabtu 16 Mar 2019 07:36 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Muhammad Hafil

Evakuasi korban penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).

Evakuasi korban penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).

Foto: Youtube
Kasus teror di Selandia Baru menunjukan bahaya fanatisme dan radikalisme berlebihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Abdul Kadir Karding mengatakan, penembakan itu menunjukkan bahwa fanatisme dan radikalisme menjadi fenomena global yang mesti terus menerus diwaspadai. Dia melanjutkan, kasus di Chrischurt menunjuka jika fanatisme dan radikalisme tidak melulu karena urusan agama tapi juga sikap nasionalisme yang berlebihan sehingga merasa mereka yang asing adalah ancaman.

"Kasus di Christchurh menjadi alaram sekaligus PR bagi kita semua menyelesaikan masalah radikalisme dan fanatisme. Kita bisa memulainya dengan mengakhiri segala bentuk intoleransi dan persekusi terhadap sesama anak bangsa," kata Karding dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (15/3).

Karding mengatakan, Presiden Jokowi memberi perhatian serius terhadap peristiwa tersebut. Dia mengungkapkan, presiden telah mengecam keras perilaku teror yang tidak berkeperikemanusiaan ini.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini berharap Polri, BIN, BNPT dan lembaga terkait yang menangangani kasus-kasus terorisme mawas diri terhadap potensi serangan teroris di Indonesia pascaserangan terhadap jamaah Masjid di Chrischurth. Dia lanjut berharap agar kemenlu dan Kedubes RI memberikan imbauan dan langkah-langkah yang cepat dan terukur terkait potensi ancaman teror kepada para WNI selaku imigran di luar negeri.

"Ini penting lantaran sentimen antiimigran sedang menguat di beberapa negara," katanya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA