Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Syafii Maarif: Perbedaan Justru Penting, Asal tak Rusak NKRI

Ahad 17 Mar 2019 06:19 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Syafii Maarif

Syafii Maarif

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Syafii Maarif mengatakan perbedaan harus disikapi dengan lapang dada.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemilihan presiden dan anggota legislatif akan digelar pada bulan depan. Masyarakat dihadapkan dengan pilihan yang berbeda hingga tak jarang membuat pertengkaran terjadi, dari pertengkaran di media sosial hingga fisik.

"Ujian sekarang soal toleransi, kerukunan beragama, kebhinekaan. Perbedaan itu perlu disikapi dengan  lapang dada, bukan dengan emosional," kata Prof Dr Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii (Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah) dalam Forum Dialog dan Literasi Media Sosial di Hotel Cavinton Yogyakarta, Sabtu (16/3).

Syafii Maarif mengatakan memasuki tahun politik masyarakat bersikaplah biasa-biasa saja. Menurutnya tidak perlu berpuisi, apalagi sampai minta tolong malaikat yang dihubung-hubungkan untuk kepentingan politik. Demokrasi apapun, tidak ada sistem pemerintahan yang sempurna.

Ia ingin menegaskan, melihat perbedaan, baik pandangan dan sikap politik haruslah dihadapi dengan lapang dada. Kalau sikap dan pandangan politik sama, kehidupan jadi membosankan.

"Perbedaan itu justru penting, asal jangan sampai menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata dia.

Forum Dialog diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI dan Suara Muhammadiyah. Forum Dialog juga menghadirkan sejumlah pembicara Prof Dr H Henry Subiakto SH MBA (Staf Ahli Kominfo RI), Prof Dr Widodo Muktiyo MCom (Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama UNS), Irfan Amalee (penulis, Co-Founder Peace Generation Indonesia) dengan pemandu Budi Kusumah.

Forum Dialog dan Literasi Media Sosial memilih tema 'Bijak di Dunia Maya, Rukun di Dunia Nyata'. Forum Dialog dengan pengantar Deni Asy'ari MA (Direktur Koorporat Suara Muhammadiyah), Sumiati (Kominfo) dan dibuka Dr Hamim Ilyas (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah).

Sumiati dari Kominfo dalam sambutannya mengatakan, fungsi Kominfo menyampaikan keberhasilan pemerintah. "Pertumbuhan internet, belum diikuti pengetahuan yang bijak," kata Sumiati

Selain itu, Kominfo membangun kesadaran publik dengan instrumen teknologi yang benar. Munculnya persoalan toleransi, radikalisme harus disikapi dengan mawas diri.

Sementara Hamim Ilyas mengatakan, Muhammadiyah tidak antimodernitas dan tidak antiteknologi sebagaimana dalam buku 'Fikih Informasi' yang disusun Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Soal keberagamaan, kebangsaan dan kebhinekaan satu tarikan nafas

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA