Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Wiranto Minta Masyarakat tidak Golput Saat Pemilu

Selasa 19 Mar 2019 18:04 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi Golput

Ilustrasi Golput

Foto: Antara
Masyarakat diingatkan tak mudah percaya hoaks

REPUBLIKA.CO.ID, MOROTAI--Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, mengimbau masyarakat tidak menjadi golput saat Pemilu pada 17 April nanti. Dirinya juga memastikan pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 aman dan kondusif.

"Jangan golput, gunakan hak pilih untuk memilih pemimpin-pemimpin terbaik yang benar-benar membawa negara kita terus membangun secara berkesinambungan," ujar Wiranto di Morotai, Maluku Utara, Selasa (19/3).

Dia pun mengingatkan bahwa masyarakat jangan mudah percaya dengan hoaks pemilu. Misalnya, jika ada yang menyebarkan informasi pelaksanaan pemilu akan rusuh.

"Saya jamin aman. Yang  ngomong rusuh itu yang akan bikin rusuh dan nanti kami tangkap, pasti. Karena akan bikin kacau saja. Oleh karena itu mari kita memilih," tegasnya.

Sebelumnya, Wiranto mengingatkan kegiatan pemungutan suara Pemilu 2019 hanya tinggal menghitung hari. Karena itu, kata dia, masyarakat harus memahami bahwa pemilu kali ini tidak hanya untuk memilih kepala negara dan wakil kepala negara saja.

"Sebentar lagi ada pemilu presiden-wakil presiden, juga pileg untuk memilih calon anggota DPR, DPRD provinsi, kabupaten/kota dan calon anggota DPD. Seluruhnya dilaksanakan secara serentak, " ujarnya.

Pemilu secara serentak seperti ini belum pernah terjadi. "Maka kami tunggu pada 17 April, supaya nanti kita sebagai warga negara mau menggunakan hak pilih. Kita pilih pemimpin yang berkualitas, baik presiden-wakil presiden , anggota DPR, anggota DPRD , anggota DPD. Jangan jadikan pemilu pesta demokrasi yang penuh konflik dan hoaks, serta fitnah," tambah Wiranto.

Sementara itu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mengungkapkan ada kecenderungan angka golput semakin naik pada Pemilu 2019. LSI menilai potensi naiknya angka golput merujuk kepada data golput yang tercatat oleh KPU dalam tiga pemilu terakhir.

Angka golput pada Pemilu 2004 sebesar 23.3 persen, kemudian pada 2009 sebanyak 27.45 persen, dan terakhir 2014 naik sebanyak 30.42 persen. "Pada pertarungan Jokowi dan Prabowo yang bertanding pertama kali, itu pun tidak mampu menekan angka golput, sehingga golput menjulang lumayan tinggi jadi 30.42 persen. Artinya golput pas pilpres trennya selalu naik,” ujar peneliti LSI, Ikrama Masloman dalam pemaparan survei pada Selasa. 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA