Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Pengamat UI: Dua Cawapres tak Menawarkan Ide Baru

Selasa 19 Mar 2019 18:13 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Cawapres No 01 KH Ma'ruf Amin bersalaman dengan Cawapres No 02 Sandiaga Uno usai mengikuti debat Cawapres Pilpres 2019 di Jakarta, Ahad (17/3).

Cawapres No 01 KH Ma'ruf Amin bersalaman dengan Cawapres No 02 Sandiaga Uno usai mengikuti debat Cawapres Pilpres 2019 di Jakarta, Ahad (17/3).

Foto: Republika/Prayogi
Debat cawapres dinilai datar dan normatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia Teguh Dartanto menilai secara umum calon wakil presiden nomor urut 01 KH Maruf Amin dan nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno tidak menawarkan ide baru dalam debat cawapres putaran ketiga. Debat berjalan dengan datar.

"Secara umum debat cawapres kemarin berlangsung secara datar dan normatif. Tidak banyak ide-ide baru yang ditawarkan," kata Teguh di Jakarta, Selasa (19/3).

Teguh menilai kedua cawapres sangat santun dalam menyampaikan ide-idenya tanpa ada serangan tajam antara satu dengan yang lainnya. Pada isu kesehatan, lanjut Teguh, tidak ada perbedaan yang mencolok antara kedua pasangan cawapres.

"Mereka fokus pada isu stunting, Program Jaminan Kesehatan Nasional dan isu preventif. Tidak ada tawaran-tawaran baru, mereka lebih monolog menyampaikan ide-idenya," katanya.

Cawapres 01 KH Maruf Amin menurut Teguh lebih paham secara mendalam terkait isu stunting dibandingkan dengan Cawapres 02 Sandiaga Uno.

Sedangkan Sandi lebih eksploratif terhadap isu JKN dengan menjanjikan 200 hari pertama akan menyelesaikan isu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sandi berjanji mengundang ahli aktuaria dari Hongkong, sedangkan Ma'ruf menyangkat isu JKN secara normatif.

Namun Teguh menyayangkan kedua cawapres tidak mengangkat isu imunisasi yang sangat penting buat masa depan Indonesia. Cakupan imunisasi lengkap menurun dari 2013.

"Kedua cawapres lupa atau melupakan atau waktunya tidak cukup. Isu kedua adalah perilaku beresiko seperti merokok tidak dibahas sama sekali, padahal prevalensi merokok anak meningkat dari tahun 2013 ke 2018," tambah dia.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA