Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Mensos Ajak TNI Bersinergi dalam Penanggulangan Bencana

Rabu 13 Mar 2019 23:51 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Bayu Hermawan

Mabes TNI (logo).

Mabes TNI (logo).

TNI diajak bersinergi bersama Tagana dan relawan lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengajak aparat tentara nasional Indonesia (TNI) bersama-sama dengan Taruna Siaga Bencana Indonesia (Tagana) dan para relawan kemanusiaan lainnya untuk bersinergi dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Kerja sama yang baik dinilai akan memberikan dampak positif bagi penanggulangan bencana di Indonesia.

"Saya mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam penanganan kebencanaan. Dengan kerja bersama saya yakin kita akan mampu menghadapi keadaan sesulit apapun," kata Mensos dalam sambutannya yang dibacakan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial (Kemensos) Pepen Nazaruddin pada acara Kuliah Kerja Perwira Sesko AU dan Perwira SesAU di Gedung Aneka Bhakti Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu (13/3).

Pepen mencontohkan salah satunya adalah adanya Nota Kesepahaman dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, BMKG, Palang Merah Indonesia, Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi tentang penanggulangan bencana. Kemensos, lanjutnya, juga telah tergabung dengan Klaster Nasional Pengungsian dan Perlindungan serta Klaster Logistik dimana klaster berada di garda terdepan dalam penanggulangan bencana.

"Kerja sama yang baik ini telah memberikan dampak yang sangat positif bagi penanganan korban bencana," katanya.

Mensos mengatakan, Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana. Sepanjang 2018 terjadi beberapa kejadian bencana alam dan mengakibatkan korban yang besar seperti gempa bumi di Provinsi NTB; gempa bumi, likuifaksi dan tsunami di Sulawesi Tengah serta tsunami di Lampung dan Banten

Tercatat sepanjang 2018 terdapat  2.572 kejadian bencana di Indonesia dan berdasarkan data serta informasi bencana dari BNPB. Sebanyak 4.814 orang meninggal dunia dan 10,2 juta jiwa mengungsi.  Selain itu, ada 320 Ribu unit rumah rusak dan 1.999 unit fasilitas umum mengalami kerusakan.

"Sebagai upaya pengurangan resiko bencana, Kementerian Sosial mengembangkan konsep Community Based Disaster Management (CBDM) yaitu pelibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana yang dikombinasikan dengan nilai-nilai kearifan lokal daerah setempat," katanya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Mensos juga menyampaikan peran Kementerian Sosial dimulai dari pra bencana hingga paska bencana. Pada saat pra bencana, Kemensos membentuk dan melatih Taruna Siaga Bencana dan Kampung Siaga Bencana (KSB) yang melibatkan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

"Saya yakin bahwa kesiapan masyarakat menghadapi kondisi seperti bencana sangatlah penting karena masyarakat yang pertama dan utama menghadapi situasi kedaruratan sebelum bantuan dari luar datang," katanya.

Saat ini terdapat 37.817 personel Tagana dan 638 lokasi KSB yang tersebar di seluruh Indonesia, ini merupakan potensi yang sangat berharga bagi Kementerian Sosial RI terutama dalam menerapkan pratek penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

Jumlah ini, lanjutnya, memang belum sepadan dengan kerawanan dan luasan Indonesia, namun Kementerian Sosial selalu berupaya untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas Tagana sebagai front liner dalam penanggulangan bencana.

Pepen menambahkan, selain kekuatan personil, Kemensos juga menyiapkan bufferstock logistik berupa bantuan makanan, bantuan evakuasi dan bantuan keperluan keluarga pada Gudang Pusat, Regional, Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia serta kendaraan siaga bencana berupa Mobil Dapur Umum Lapangan, Truck Serbaguna, Mobil Tangki Air, Mobil Rescue Tactical Unit (RTU), Motor Dapur Lapangan dan Motor Trail untuk mempercepat layanan kepada korban bencana.

Selanjutnya pada saat terjadi bencana, Kementerian Sosial melakukan evakuasi korban kelokasi aman dengan pendirian tenda darurat, pelayanan dapur umum lapangan untuk memenuhi kebutuhan makan korban terdampak dan memberikan kegiatan layanan dukungan psikososial (LDP).

"Pada saat pascabencana, Kemensos memberikan bantuan stimulan pemulihan sosial berupa santunan ahli waris, santunan korban luka, jaminan  hidup, isi hunian dan bahan  bangunan rumah. Selain itu, kami juga melakukan rujukan seper shelter,  sekolah, kesehatan, sanitasi air  lapangan pekerjaan dan lain-lain," ujarnya.

Di akhir sambutannya, kepada para perwira siswa Seskoau dan perwira siswa Sesau, Agus berharap upaya Kemensos dalam penaggulangan bencana ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan akan kebencanaan, serta kelak dapat bekerja sama lebih erat lagi dalam upaya negara memberikan perlindungan terhadap korban bencana.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA