Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Seberapa Besar Pengaruh Masuknya Erwin Aksa ke Kubu Prabowo?

Rabu 20 Mar 2019 17:30 WIB

Rep: Bambang Noroyono/Arif Satrio Nugroho/Ali Mansur/Rizkyan Adiyudha/Nawir Arsyad/ Red: Muhammad Hafil

Erwin Aksa

Erwin Aksa

Foto: Republika
Golkar resmi memecat Erwin Aksa karena mendukung Prabowo-Sandi.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Politikus Golkar Erwin Aksa sekaligus keponakan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla secara terang-terangan mendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Padahal partainya secara resmi telah mengusung pasangan calon Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin. Namun Erwin memiliki alasan yang cukup mengharukan kenapa dirinya memilih mendukung Prabowo-Sandiaga.
 
"Saya dan Sandiaga Uno merupakan sahabat sejati, mantan Ketua Umum HIPMI dan aktif di KADIN. Kami punya ikatan emosional yang tidak bisa kami hilangkan dan kami lupakan. Kami memiliki hubungan persahabatan yang hakiki," tegas Erwin Aksa saat dikonfirmasi Republika.co.id, Selasa (19/3).

Erwin mengaku dirinya menggantikan Sandiaga menjadi Ketua Umum HIPMI Munas di Bali dan Sandiaga-lah yang membantunya. Sehingga dirinya bisa menjadi Ketua Umum HIPMI. Bagi dirinya persahabatan lebih penting dari segalanya. Erwin tidak ingin persahabatannya dengan Sandiaga terputus karena pilihan politik yang berbeda.

"Nilai-nilai persahabatan harus terus dipupuk karena nilai-nilai persahabatan adalah modal sosial yang sangat penting bagi pembangunan Indonesia," tutur Erwin.

Maka dengan demikian, Erwin sadar atas konsekuensi yang harus diterimanya dari Partai Golkar akibat dari dukungannya tersebut. Bahkan, saat ini ia mengaku tidak sejalan dengan partai berlambang pohon Beringin tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa langkahnya bukan berarti tidak taat asas, tapi demi persahabatan dengan Sandiaga Uno.

"Akhirnya saya mohon maaf kepada seluruh kolega dan kader Partai Golkar di seluruh Indonesia, dan dengan ini saya menyatakan Non Aktif dari kepengurusan Partai Golkar sampai proses pencapresan selesai," ungkapnya.

Lanjut Erwin, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 17 April 2019 mendatang merupakan proses politik konstitusional yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Setiap warga negara berhak untuk memilih calon presiden dan calon wakil presiden sesuai dengan pilihan hati nuraninya dan hak tersebut dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang.

"Pilihan saya ini adalah pilihan pribadi dan dalam hal kampanye dan sosialisasi Capres-Cawapres selama ini saya tidak pernah mengatasnamakan dan menggunakan atribut Partai Golkar," kata Erwin.

Erwin berpendapat dinamika politik dan perbedaan pilihan ini merupakan hal yang wajar dalam alam demokrasi. Perbedaan ini harus disikapi secara bijak dan tidak perlu dipandang negatif. Bahkan masyarakat harus diberi pemahaman yang baik bahwa perbedaan bukanlah permusuhan. Perbedaan menjadikan bangsa Indonesia lebih kaya dan lebih dewasa. 

Partai Gerindra menyambut baik dukungan yang diberikan Politikus Partai Golkar Erwin Aksa pada Paslon 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Gerindra menilai, keputusan Erwin Aksa mendukung paslon yang diusungnya sudah berdasarkan pertimbangan yang matang.

Wakil Ketua Umum Gerindra Edhy Prabowo menuturkan, komunikasi dengan Erwin Aksa sudah terjalin lama. Terlebih lagi, Cawapres 02 Sandiaga Uno merupakan teman dekat Erwin. Maka, kata Edhy, wajar bila Erwin kemudian memutuskan mendukung Paslon 02.

"Saya yakin tidak mungkin ujug-ujug. Saya yakin atas pertimbangan yang luar biasa dan kami sendiri tidak mungkin mengintervensi ya," ujar Edhy di Kompleks DPR RI, Jakarta, Selasa (19/3).

Edhy pun meyakini dukungan Erwin Aksa yang juga Kerabat dekat Wakil Presiden Jusuf Kalla bakal memperkuat dukungan bagi Prabowo-Sandi. Ia menyebut, Erwin bakal membantu Prabowo - Sandi untuk semakin banyak mendulang suara dalam Pemilu 2019.

Status Erwin sebagai pengusaha disebut - sebut akan menggiring 'gerbong pengusaha' untuk memberikan dukungan pada Prabowo Sandi. Terkait isu tersebut, Edhy yang juga Direktur Pemberdayaan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menuturkan, hal itu tidak bisa dilihat secara sepihak.

"Kita lihat saja, tidak semua, tapi kalau itu semua membawa buat kita menguntungkan, itu saja. Bagi kami, masuknya beliau itu adalah kekuatan tersendiri yang memang saat ini sangat kita harapkan," kata Ketua Komisi IV DPR RI itu.

Dipecat

Namun, keputusan Erwin ini membuat Golkar mengambil sikap tegasnya. Golkar memutuskan untuk mencopot posisi Erwin Aksa sebagai Ketua DPP bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Keputusan dibuat menyusul dukungan yang diberikan Erwin kepada pasangan calon (paslon) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Keputusan pemberhentian sdr. Erwin Aksa dari jabatan struktural di DPP Partai Golkar untul menjaga mawrah partai," kata Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (19/3).

Airlangga mengatakan, pencopotan juga dilakukan guna melaksanakan secara konsisten amanat musyawarah nasional luar biasa (munaslub) partai pada 20 Desember 2017 lalu. Dia melanjutkan, salah satu amanat munaslub adalah dukungan partai golkar bagi calon presiden (capres) Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019.

Menteri perindustrian ini mengatakan, sikap yang ditunjukan Erwin tentu nertentangam dengan amanat forum pengambilan keputusan partai golkar. Dia menersukan, setiap kader dan pimpinan partai di seluruh Indonesia wajib mengikuti dan menjalankan forum tertinggi tersrbut dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

"Keputusan pemberhentian sdr. Erwin Aksa mulai berlaku sejak hari ini," kata Airlangga lagi.

Juru Bicara TKN Meutya Hafid mengatakan, tim pemenangan menghormati pilihan pribadi Erwin yang menyatakan mundur dari partai. Menurutnya, Partai Golkar memang sangat solid dan mantab dalam mengusung Jokowi. Dia mengatakan, semangat itu menjadi spirit dari seluruh kader Golkar dari tingkatan pusat dan daerah.

"Kami menghormati pilihan Erwin Aksa untuk mundur. Langkah ini sekaligus jadi bukti bahwa Golkar semakin solid dalam mengusung Jokowi," katanya.

Meutya berpendapat, sebab kini dari pusat hingga ranting di daerah, semua ada dalam satu visi dan garis perjuangan yang sama untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Dia mengaku memang tak tertutup ada pandangan yang tak selalu sama.

Namun, menurutnya, di Golkar visi telah menjadi satu kesatuan yang mengikat setiap langkah kader. Hal itu pula, dia melanjutka, disadari Erwin sehingga dengan jiwa besar dirinya mengaku bukan lagi bagian dari Golkar.

Namun, pemecatan politikus Erwin Aksa dari kepengurusan Golkar dianggap kerugian bagi partai tersebut. Politikus Golkar, Mahyudin mengatakan, tak seharusnya Erwin dipecat lantaran keputusannya untuk berbeda pilihan politik dalam Pilpres 2019. Menurut dia, Erwin adalah sosok politikus muda potensial di internal partai berlambang Beringin yang seharusnya dipertahankan dalam kepengurusan dan keanggotaannya.

“Demokrasi itu tidak pernah bulat. Dan dinamika politik itu hal biasa, dan tidak serta merta harus dipecat. Saya sangat menyayangkan kalau Erwin dipecat,” kata Mahyudin di sela-sela sosialisasi Empat Pilar di Sangasanga, Kutai Kartanegera, Kalimantan Timur (Kaltim). Mahyudin khawatir, pemecatan Erwin tersebut, akan berujung pada keputusannya, pindah haluan ke partai lain. “Kerugian bagi partai Golkar dengan memecat Erwin. Dia sangat potensial di Golkar,” sambung Mahyudin.

Mahyudin, juga pengurus partai Golkar. Di masa kepemimpinan Ketua Umum Erlangga Hartanto, Mahyudin duduk sebagai wakil ketua di DPP Partai Golkar. Sedangkan Erwin, sebagai ketua bidang koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) Golkar. Keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu, dipecat pada Selasa (19/3) setelah aksinya yang hadir mendukung Calon wakil presiden (cawapres) 02, Sandiaga Uno dalam debat Pilpres edisi ketiga, Ahad (17/3). DPP Golkar menilai aksi Erwin sebagai pembangkangan terhadap keputusan partai.

Sebab, Golkar dalam tahun politik saat ini sebagai partai peserta koalisi, PDI Perjuangan, PKP, PPP, Nasdem, dan Hanura, yang mendukung pasangan calon presiden (capres) 01, Joko Widodo (Jokowi) dan cawapres KH Maruf Amin. Sedangkan Sandiga, merupakan cawapres dari rival 01, Prabowo Subianto, usungan Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. 

Mahyudin mengatakan, di Pilpres 2019 suara resmi DPP Golkar, memang memastikan dukungan terhadap pasangan 01 Jokowi dan Maruf Amin. Namun kata dia, partai terbesar kedua di Indonesia dalam Pemilu 2014 itu, tak bisa menjamin kemauan hati pilihan politik para kadernya. “Karena biasanya, memang ada kader yang ‘nakal’ dan memilih pilihan yang berbeda,” ujar dia. Akan tetapi, ia mengatakan, tak semestinya pilihan politik yang berbeda tersebut, berujung pada aksi pemecatan. “Dinamika dalam berpolitik itu kan selalu ada,” sambung dia.

Meski menyayangkan pemcetan Erwin dari kepengurusan, tetapi Mahyudin juga menghormati apa yang menjadi keputusan DPP Golkar. Kata dia, ada evaluasi di internal partai yang seharusnya dijalankan sebelum dilakukan. Yaitu, berupa klarifikasi dari yang berseberangan dengan keputusan partai, sampai memberikan peringatan, dan penonaktifan dari kepengurusan. Paling berat, yakni pemecatan sebagai anggota partai. Tetapi menurut Mahyudin, pemecatan Erwin dari kepengurusan, adalah langkah yang merugikan partai itu sendiri.

Pengaruh

Direktur Riset Populi Center, Usep S Ahyar mengatakan, masuknya Erwin Aksa ke BPN Prabowo-Sandi tidak berpengaruh signifikan terdahap peta dukungan. Menurut Usep, tokoh yang banyak berpengaruh adalah mereka yang dekat dengan masyarakat dan memiliki simpatisan (massa), Rabu (20/3).

"Dia (Erwin Aksa) adalah tokoh elite, setelah ia memutuskan bergabung ke Prabowo, saya kira tidak banyak berpengaruh. Ketokohan yang lebih banyak berpengaruh menjelang pemilu adalah ketua RT, tokoh masyarakat atau tokoh agama (kiai)," kata Usep.

Selanjutnya, menurut Usep, tokoh masyarakat seperti kyai memiliki pengaruh yang lebih besar daripada tokoh elit nasional. Hak itu disebabkan oleh posisi tawar mereka yang cukup strategis. Mereka mampu memberikan pertimbangan untuk memilih. "Selama ini, informasi melalui media sosial atau televisi belum mampu meyakinkan masyarakat. Tokoh tersebut biasanya dimintai pertimbangan oleh masyarakat," kata peneliti Populi Center tersebut.

Kemudian, Usep menambahkan, kedua pasangan calon seharusnya bisa bekerja sama dengan tokoh masyarakat. Hal itu ditujukan menambah dukungan dan meyakinkan massa mengambang (swing voters). Menurutnya, pendukung 01 ataupun 02 masih berpotensi mengubah dukungan. "Terkait berapa jumlahnya, hal itu perlu diteliti lebih jauh," katanya.

Baca Juga

Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menilai, dukungan Erwin berdampak positif pada upaya pemenangan Prabowo-Sandi. Ia pun mengaku tidak heran atas dukungan Erwin, mengingat Erwin diketahui sangat dekat dengan Sandiaga Uno.

"Saya kira sudah dari beberapa waktu yang lalu karena saudara Erwin dekat dengan Sandi, saya waktu itu juga ketemu di TIM dengan saudara Erwin Aksa ketika ada acara dan memang sejak awal mendukung, saya kira itu juga satu hal yang tentu sangat menambah energi bagi kita," ujar Fadli Zon.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA