Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

CEO Alvara: Kampanye Terbuka Peluang Jokowi Perlebar Jarak

Jumat 22 Mar 2019 19:38 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Andri Saubani

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mencopot alat peraga kampanye (APK) Capres-Cawapres Jokowi-Amin saat penertiban di jalan Protokol pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (19/3/2019).

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mencopot alat peraga kampanye (APK) Capres-Cawapres Jokowi-Amin saat penertiban di jalan Protokol pusat Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa (19/3/2019).

Foto: Antara/Rahmad
Selisih elektabilitas antara Jokowi dan Prabowo berada pada kisaran 20 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengungkapkan, kampanye terbuka menjadi peluang bagi calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) untuk memperlebar jarak elektabilitas atas Prabowo Subianto. Dia mengungkapkan, kampanye terbuka akan punya dua fungsi penting.

Hasanuddin mengatakan, fungsi pertama adalah semakin menyolidkan pemilih yang sudah menentukan pilihan dan kedua adalah mengukur militansi pemilih. Dia melanjutkan, militansi bisa diukur dengan seberapa militannya pendukung untuk hadir ke kampanye.

"Sebab bagaimanapun juga pemilu itu adalah kesukarelaan untuk memilih dan militansi pemilih akan terlihat dari kehadiran mereka nanti ke TPS," kata Hasanuddin di Jakarta, Jumat (22/3).

Lebih jaiuh, Hasanuddin mengatakan, kampanye terbuka juga menjadi kesempatan kedua pasangan calon (paslon) untuk meyakinkan pemilih yang belum menentukan suaranya. Karena itu, dia mengimbau, dalam kampanye terbuka kedua paslon diimbau untuk tidak sekadar kampanye simbol tapi juga program.

Menurut Hasanudin, kampanye program merupakan hal yang selalu dilakukan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Misalnya saja, dia mencontohkan, kampanye sosialisasi program pra-kerja, sembako murah serta beasiswa hingga ke jenjang perguruan tingggi.

"Sebaliknya, kubu Prabowo-Sandiaga Uno lebih kepada memainkan gimmick dan eksploitasi terhadap kasus personal," kata Hassanudin lagi.

Eksploitasi gimmick dan kasus personal itulah yang kemudian sempat dikritik oleh guru besar UI Hasbullah Thabrany. Dia berpendapat, kebiasaan Sandi dalam mengeksploitasi kasus personal masyarakat merupakan kegiatan yang tidak akademis. Dia menilai jika hal itu dinilai hanya sekadar gimmick politik.

"Sebab masalah satu orang belum bisa dikatakan mewakili masalah Indonesia secara umum," katanya.

Sementara, kurang sebulan menjelang pemilihan presiden, elektabilitas paslon penantang belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Mengacu pada hasil survei Alvara, elektablitas paslon nomor urut 02 itu masih tertinggal cukup jauh dari paslon 01.

Tingkat keterpilihan Prabowo masih belum beranjak dari kisaran 20-an persen. Kubu penantang belum juga mampu mempertipis jarak ketinggalannya sekalipun debat capres dan cawapres sudah berlangsung tiga kali.

Di sisi lain, suara Jokowi masih berada di atas 50-an persen. Hasil survei mendapati elektabilitas Jokowi masih berkisar antara 51,8 sampai 55,4 persen. Sementara dari sisi Prabowo sebesar 32 sampai 37,3 persen.

Sedangkan, hasil survei Litbang Kompas mendapati elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 49,2 persen sementara, pasangan Prabowo-Sandiaga mendapat 37,4 persen. Selisih keduanya sebesar 11,8 persen dengan 13,4 persen responden menyatakan rahasia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA